Muhammad Husain Haikal : Penulis Biografi Nabi Muhammad SAW

husen+haekalKehidupan

Muhammad Husain Haikal lahir pada 20 Agustus 1888 di Kafr Ghanam, Sinbiliawain di provinsi Dahaqlia, dekat delta Sungai Nil, Mesir. Haekal menghabiskan masa kecilnya di Kafr Ghanam dan belajar di sebuah Madrasah setingkat pendidikan anak di daerah tersebut. Pengajaran Al Quran menjadi materi tetap dalam kurikulum madrasah tersebut. Setelah selesai menjalankan pendidikan di madrasah tersebut, Haekal pindah ke kota Kairo dan memulai pendidikan dasar dan menengah hingga tahun 1905. Ketertarikannya dalam hukum membawanya untuk mempelajari hukum hingga mendapatkan pengakuan berupa lisensi pada tahun 1909. Haekal melaju dengan masuk ke Universite de Paris untuk studi hukum lanjutannya dan melanjutkan pendidikannya pada tingkat doktoral di Universitas yang sama. Haekal mendapatkan gelar Ph.D setelah mempertahankan disertasi miliknya yang berjudul La Dette Publique Egyptienne. Setelah menyelesaikan studinya, Haekal kembali ke mesir dan menjalankan profesi sebagai pengacara di daerah Mansoura yang setelah beberapa waktu pindah ke Kairo. Profesi ini dijalaninya hingga tahun 1922.

Sejak masa muda, Haekal telah dikenal sebagai orang yang sangat giat dalam menulis. Tulisannya mencakup tema sastra, politik, hukum, ekonomi hingga penulisan biografi. Kebiasaan ini terus dibawanya hingga saat dia menjalani profesi sebagai pengacara pada waktu itu. Dia giat menulis di berbagai media seperti media Al Sufur, Al Ahram dan Al Jarida. Haekal juga pernah mendirikan media yang bernama As Siasa yang sebagian besar tulisannya mengenai hukum. As Siasa menjadi salah satu media yang paling berpengaruh pada tahun 1920an. Dunia jurnalistik ini digeluti oleh Haekal hingga tahun 1938 setelah dia terpilih sebagai Menteri Negara Mesir.

Haekal menjabat berbagai menteri mulai dari Menteri Negara, Menteri Pendidikan (dua kali masa jabatan) dan Menteri Sosial hingga tahun 1945. Setelah itu, dia dipercaya sebagai ketua Majelis Senat hingga tahun 1950. Selain jabatan pemerintahan, Haekal juga pernah memegang jabatan politik yaitu ketika menjabat sebagai ketua Partai Liberal Konstitusi (Liberal Constitutional Party) pada tahun 1943 hingga 1952.

Pada tahun 1953, Haekal meninggalkan semua jabatan structural maupun politik. Dia kembali menggeluti dunia penulisan melalui media pemberitaan. Pada tahun tersebut, dia mulai aktif kembali menjadi kontributor dalam harian Al Mishri dan Al Akhbar hingga wafat pada 8 Desember 1956.

Karya

Bidang Sejarah

  1. Hayyatu Muhammad (1935)
  2. Fi Manzil al-Wahyi (1937)
  3. al-Shiddiq Abu Bakr (1942)
  4. al-Faruq Umar (1944-1945) 2 Jilid
  5. ‘Uthman bin ‘Affan (1964)
  6. al-Imbraturiah al-Islamiyah wa al-Amakin al-Muqaddasah fi al-Syarq’ al-Aushat (Commonwealth Islam dan tempat-tempat Suci di TImur Tengah) berupa kumpulan studi (1960).

Bidang Sastra

  1. Yaumiyyat Baris (1909)
  2. Tsaurah al-Adab (1933)
  3. Zainab (1914)
  4. Waladi (1931)
  5. Hakaza Khuliqat (1925)
  6. Fi Auqat al-Firaq (1927)
  7. ‘Asyarah Ayyam fi al-Suddan (1927)
  8. Qishash Mishriyyah (1969).

Bidang politik

  1. Jean Jacques Rousseau (1921-1923) 2 Jilid
  2. Tarajim Mishriyyah wa Garbiyyah (1929)
  3. al-Mishriyyah wa al-Inqilab al-Dusturi (1931)
  4. al-Hukumah al-Islamiyyah (1935)
  5. Asy-Syarq al-Jadid (1963)
  6. Mudzakkirat fi al-Siyasah al-Mishriyyah (1951-1953)

Bidang Agama

  1. Al-Iman wa al-Ma’rifah wa al-Falsafah

-Rangkuman Berbagai Sumber-

Abu Ubaidah bin Jarrah: Kepercayaan Umat Nabi Muhammad SAW

mengacu pada kitab : الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Abu Ubaidah Ibn Jarrah

[ 14 ] أبو عبيدة بن الجراح اسمه عامر بن عبد الله بن الجراح

Abu Ubaid bin Al-Jarrah nama aslinya Amir bin Abdullah bin Al-Jarroh

Abu Ubaidah bin Jarrah terlahir dengan nama lengkap Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Uhaib bin Dhabah bin Al Harist bin Fahr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin  Muhdar bin Nizar bin Ma`ad Al quraisy Al Fihry al maky. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Fihry. Ia adalah anak dari Abdullah bin Jarrah, seorang yang tidak mengakui dan menolak ajaran Islam.

Dalam Manaqib Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhu yang disusun Az Zamakhsyari, disebutkan bahwa Abu Ubaidah bin Jarrah merupakan salah seorang dari sepuluh sahabat Nabi SAW yang dijanjikan masuk surga (As Sabiqunal Awwalun). Mereka adalah Khulafaurasyidin yang terdiri dari Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Lalu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Merekalah yang disebutkan dalam Surat At Taubah Ayat 100.

Allah SWT Berfirman,

orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.(QS. At Taubah : 100)

Abu Ubaidah masuk Islam satu hari setelah Abu Bakar Ash Shiddiq masuk Islam, dan atas bantuan Abu Bakar Ia masuk Islam. Abu Ubaid juga salah seorang yang ikut hijrah ke negeri Habasyah(Ethiopia) dan Yatsrib(Madinah) dikarenakan adanya penyiksaan dan pengejaran terhadap mukmin oleh kaum Kafir Quraisy. Ia adalah salah sorang penghapal qur’an pada masa itu.

Sifat Abu Ubaidah

Abu Ubaidah adalah salah seorang yang amat mencintai Rasulullah SAW. Pada saat perang Uhud mencapai puncaknya, Rasulullah SAW menjadi target utama dalam penyerangan dan pengepungan dari pihak musuh. Senjata seperti panah dan sebagainya mengarah ke sasaran utama bagi pihak musuh yaitu Rasulullah yang membuat Nabi SAW terluka di bagian kepala dan gigi depan menjadi patah. Bahkan, salah seorang yang bernama Ibnu Qami’ah menyerang rasulullah dan membuat pipi Rasulullah SAW terluka karena terkena kancing baju perang Ibnu Qami’ah.

Abu Ubaidah bersama Sahabat lainnya segera melindungi dan membuat barisan pertahanan bagi keselamatan Rasulullah SAW. Darah bercucuran dari wajahnya, berulang kali disekanya darah yang mengalir dari kepala. Sesaat dia mengatakan, “Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya terluka wajahnya?” Abu Ubaidah juga berusaha mencabut kancing yang melukai pipi Rasulullah SAW dengan kedua gigi nya yang mengakibatkan giginya patah.

Disisi lain, Rasululah juga amat mencintai Abu Ubaidah. Dia adalah orang yang dapat dipercaya oleh nabi. Dalam suatu riwayat mengatakan, Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Aisyah siapakah sahabat Rasulullah yang paling dicintai Rasul? Aisyah menjawab,” Abu Bakar, lalu umar, lalu Abu Ubaidah bin Jarrah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga amat mempercayai Abu Ubaidah. Dibuktikan ketika dua orang uskup Nasrani asal Najran mendatangi madinah untuk menemui Rasulullah SAW untuk meminta dicarikan seseorang yang bisa menengahi dan menjadi hakim bagi persoalan di Najran sekaligus mengajarkan perihal agama Islam. menjanjikan seseorang yang dapat dipercaya bagi mereka. Para sahabat bertanya-tanya siapakah yang menjadi orang kepercayaan Nabi SAW.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, diterangkan bahwa Al Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah Radiyallahu’anhu Ia berkata: Al ‘Aqib dan As Sayyid, keduanya adalah pemuka Najran, mereka datang kepada Rasulullah SAW. Mereka bermaksud untuk mengajak Muhaballah (Saling melaknat dengan menyebut nama Allah) dengan Nabi Saw, lalu salah satu dar ikeduanya berkata kepada yang lainnya: ‘Jangan kau lakukan hal itu! Demi Allah, jika itu seorang Nabi, lalu kita saling melaknat dengannya, maka kita dan keturunan kita tidak akan beruntung.’ Setelah itu keduanya berkata: ‘ Kami akan memberikan apa yang kamu minta. Utuslah bersama kami seseorang yang dapat dipercaya, dan janan engkau utus kecuali yang benar-benar jujur.’ Beliau pun bersabda: ‘Aku pasti akan mengutus seseorang yang benar-benar dapat dipercaya untuk ikut bersama kalian.’ Para sahabatpun berharap mendapat kehormatan sebagai utusan beliau. Lalu beliau bersabda: ‘berdirilah wahai Abu Ubaidah bin al-Jarrah.’ Ketika Abu Ubaidah berdiri, Rasulullah SAW bersabda: ‘Ini adalah orang yang dapat dipercaya dari umat ini.’”(HR. Al Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’I, dan Ibnu Majah)

Dikutip dari sebuah sumber, Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, “aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu pada waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau berseru: “kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya.”

 

Al Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, bahwa Nabi SAW bersabda,

لِكُلِّ أُمّةِ أَمِيْنٌ, وَأَمِيْنُ هَذِهِ الأُمّةِ، أَبُوْا عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرّاح

Setiap Umat memiliki kepercayaan, dan orang kepercayaan dari umat ini, ialah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Abu Ubaidah mengaku senang atas penunjukkan dan pemberian amanat ini dan segera ikut untuk pergi ke Najran. Ia menjadi suri tauladan bagi warga Najran hingga masa tugasnya di Najran berakhir.

Abu Ubaidah memang begitu dicintai banyak orang, terlebih para Sahabat Nabi. Bahkan, ketika Rasulullah SAW wafat, banyak orang dating kepadanya dengan maksud membai’at dirinya termasuk Umar bin Khattab sebagai pemimpin pengganti Rasulullah SAW bagi umat Islam saat itu. Beliau justru mengatakan, “Belum pernah aku melihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaiatku, sedangkan ash-Shiddiq, shahabat kedua Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Gua Hira’, ada di tengah-tengah kita?” hal ini menyadarkan Umar dan segera menyuruh orang memanggil Abu Bakar dan mengajaknya ke Saqifah bani Saidah. Pada saat itu,  kaum anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar pun Bertanya: “Ada apa ini?” mereka menjawab pertanyaan Abu Bakar: “dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir”. Abu bakar mengatakan bahwa boleh diangkat Amir dari kedua orang yang ditunjuknya, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Ubaid. Keduanya mengatakan tidak ada yang menyamai kedudukan Abu Bakar saat itu dan justru membai’at Abu Bakar.

Bahkan, ketika dirinya sudah meninggal dunia Umar bin Khattab masih saja menyebutkan namanya. Diriwayatkan, Umar pernah berkata, “Apabila aku mati, sedangkan Abu Ubaid masih hidup maka aku akan menyatakan ia sebagai penggantiku. Jika Tuhanku menanyakan tentang masalah ini maka aku akan menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya, setiap nabi mempunyai orang kepercayaan dan orang kepercayaanku adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.” Akan tetapi, Abu Ubaidah saat ini telah wafat.”

Tidak Cinta Dunia

Salah satu keteladanan seorang Abu Ubaidah adalah penyikapannya terhadap harta. Ia jauh dari kehidupan dalam gerlapnya dunia dan tak pernah memikirkannya. Pernah dalam suatu riwayat yang disampaikan Thabrani dalam Al Kabir dari Malikud Darr (Malik bin ‘Iyadh, Hamba sahaya Umar). Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Umar Ibn Khattab radiyallahu anhu mengambil empat ratus dinar, dan memasukkannya ke dalam kantung uang. Lalu ia mengatakan kepada pelayannya, “Bawa ini kepada Abu Ubaidah bin Jarrah radiyallahu anhu dan ikuti ia sesaat, hingga kamu melihat apa yang dikerjakannya (dengan uang ini)!”

Pergilah sang pelayan tadi bemaksud menemui Abu Ubaidah dan mengatakan kepadanya, “Amirul Mu’minin berpesan kepadamu agar menggunakan uang ini untuk memenuhi kebutuhan anda.” Abu Ubaidah menjawab, “Semoga Allah melindungi Umar dan memberikan rahmat kepadanya.” Lalu berkata lagi kepada pelayan Umar, “Bawalah tujuh dinar untuk si fulan, lima dinar untuk si fulan, …” hingga uang itu habis.

Dalam riwayat lain yang disampaikan Abu Nuaim, meriwayatkan bahwa urwah berkata, “Umar Ibn Khattab mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah radiyallahu anhu yang ketika itu sedang berbaring di atas alas binatang kendaraannya, dan berbantalkan tas. Lalu Umar berkata kepadanya, ‘mengapa engkau tidak menggunakan sesuatu yang seperti digunakan oleh sahabat-sahabatmu yang lain?” Abu Ubaidah  menjawab, ’Wahai Amirul mu’minin, hanya dengan ini aku bisa beristirahat di tengah hari.”

Dalam peristiwa yang lain, Mu’ammar juga pernah mengatakan bahwa ketika Umar berkunjung ke Syam, rakyat dan pembesar negeri itu menyambutnya. Lalu Umar berkata, “Dimana Saudaraku?”

Mereka bertanya, “Siapa?”

Umar menjawab, “Abu Ubaidah.”

Mereka lalu mengatakan, “Sebentar lagi Ia akan menemuimu.”

Ketika Abu ‘Ubaidah datang, Umar turun dan kemudian merangkul Abu Ubaidah dan menanyakan keadaannya. Lalu Umar masuk ke dalam rumah Abu Ubaid. Ia tidak menemukan perabot apapun kecuali hanya pedang, perisai, dan binatang kendaraannya.

Sumber :

Kumpulan khotbah Ali Bin Abi Thalib – Sayyid Ahmad Asy Syailani

Ar-Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam – Said Hawwa

Tarikh Al-Khulafa – Imam As Suyuthi

Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 – Dr.’Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh

Tokoh-tokoh yang diabadikan al-Quran, Volume 1 – Abdurrahman Umairah

——Semoga Berkenan, dipersilahkan kritik saran, mohon maaf atas kesalahan—–

Sumber Gambar : http://files.myopera.com/quranteaching1989/blog/Asharaye-Mobashera.jpg

Untuk selanjutnya akan dibahas, Abu Ubaidah Sebagai Pemimpin

Kitab Nama – Nama dan Julukan Karya Imam Ahmad bin Hanbal (Poin 11. Tentang Ummu Salamah, Istri Rasulullah SAW)

Diambil dari Kitab

الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Ummu Salamah, Istri Rasulullah SAW

[ 11 ] أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم اسمها هند بنت أبي أمية بن المغيرة بن عبد الله بن عمر بن مخزوم

Ummu Salamah, Istri Nabi SAW. Nama Aslinya Hindun Binti Abi Umayyah Bin Al Mughiroh bin Abdullah bin Umar Bin Makhzum

Ummu  Salamah atau Siti Hindun Binti Abi Umayyah adalah  anak dari Abi Umayyah yang terkenal terhormat dan terkenal dermawan antar sesama bangsa Quraisy. Ayahnya tersebut pernah mendapat gelar Zaad Ar-Rakhbi yang artinya “Pengembara yang berbekal”. Abi Sufyan sering bepergian dengan membawa perbekalan yang cukup, bahkan tidak jarang juga mencukupi perbekalan musafir lainnya. Adapun  Ibu beliau bernama ‘Atikah  binti Amir bin Rabi’ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat. Hal ini menandakan Ummu Salamah memiliki nasab yang sangat terhormat. Selain itu, Ummu Salamah terkenal berparas cantik dan cerdas.

Ummu Salamah juga seorang mantan istri dari Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi atau yang lebih dikenal dengan Abu Salamah yang merupakan salah satu sahabat Nabi SAW yang ikut dalam 2 hijrah. Pernikahannya membuahkan anak yang bernama Salamah yang lahir di bumi Habasyah (Ethiopia), serta Umar, dan dua orang putri Durrah dan Zainab yang lahir di Kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah. Kematian Abu Salamah berawal ketika memimpin pertempuran dalam perang Uhud. Luka yang parah didapatinya dalam perang Uhud yang tak kunjung sembuh hingga kematian menjemputnya ketika kembali dari ekspedisi pertempuran di Qathn yang telah dimulai sejak Shafar 4H.

Kematian Abu Salamah membuat kesedihan yang amat mendalam bagi Ummu Salamah yang pada saat itu sedang hamil anaknya yang bernama Zainab. Kesedihannya bertambah manakala dirinya sedang dalam keadaan miskin dan ke-3 anaknya masih kecil-kecil. Di Akhir masa ‘iddahnya sebenarnya Abu Bakar sudah berniat untuk meminangnya dengan tujuan untuk menyelamatkan kelangsungan hiidup Ummu Salamah dan anak-anaknya. Namun, Ummu Salamah tidak menerima pinangan Abu Bakar dengan sangat sopan. Dalam riwayat lain, Umar juga mencoba meminangnya walaupun tidak di setujui oleh Ummu Salamah.

Rasulullah SAW tidak dapat berdiam diri atas musibah yang menimpa Ummu Salamah yang semakin membuatnya sengsara. Beliau mengirimkan seseorang untuk melamarkan Ummu Salamah untuknya, dalam permintaannya itu, Ummu Salamah mengatakan “Saya adalah seorang yang sudah tua, seorang yang kekanak-kanakan yang punya anak dan sangat pencemburu.” Lalu, Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:”Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo’a kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu.” Kemudian Ummu Salamah memanggil Anaknya, Umar dan mengatakan, “Berdirilah Umar, Nikahkan Aku dengan Rasulullah SAW.” Ummu Salamah adalah istri yang kelima Rasululullah SAW setelah Saudah.

#Referensi

* teladan indah rasulullah dalam ibadah oleh Ahmad Rofi’ Usmani

* 99 Kisah Teladan Sahabat Perempuan Rasulullah oleh Manshur Abdul Hakim

* Kelengkapan Tarikh Edisi Lux Jilid 3 oleh KH. Moenawar Chalil

* 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Saw oleh Muhammad Ali Quthb

* Wangi Akhlak Nabi oleh Ahmad Rofi’ Usmani

* Merajut Cinta Benang Perkawinan oleh Wawan Susetya

——Semoga Berkenan, dipersilahkan kritik saran—–

Gambar : http://farm4.static.flickr.com/3167/2640770157_3dc2077f60.jpg

Kitab Nama – Nama dan Julukan Karya Imam Ahmad bin Hanbal (Poin 5)

Diambil dari Kitab

الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Ali Bin Abi Thalib

[ 5 ] قال أبي بلغني أسماء نفر من بني هاشم علي بن أبي طالب أبو طالب اسمه عبد مناف بن عبد المطلب وعبد المطلب اسمه شيبة بن هاشم وهاشم اسمه عمرو بن عبد مناف بن قصي وقصي اسمه زيد بن كلاب بن مرة بن كعب

Ali Bin Abi Thalib namanya ‘Abdu Manaf Bin Abdul Mutholib, Abdul Mutholib namanya Syaibah Bin Hasyim, Hasyim namanya Amru bin Abdu Manaf bin Qoshi, Qoshi namanya Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab

# Kalau dilihat ini berhubungan dengan poin ke-4 tadi pagi. yaitu dalam

http://www.facebook.com/notes/riyan-hidayat/kitab-nama-nama-dan-julukan-karya-imam-ahmad-bin-hanbal-poin-1-4/10151329999419517,

[ 4 ] قال أبي بلغني أن اسم أبي بكر الصديق عبد الله بن عثمان بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم بن مرة

Nama Asli Abu Bakar ialah ‘Abd Allah ibn ‘Utsman bin Amir bi Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah

-> Dapat dilihat bahwa Silsilah Abu Bakar Ash-Siddiq dan Ali Bin Abi Thalib bertemu pada Murrah bin Ka’ab Bin Lu’ay.