​PERAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI

Saat ini kondisi perekonomian Indonesia sedang tidak stabil. Pada bulan maret ini, BPS melansir berita bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,02%, dimana saat Januari, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,97%. Hal tersebut memperkuat indikasi bahwa perekonomian Indonesia sedang tidak stabil. Di pasaran, dampak ketidakstabilan perekonomian Indonesia bisa terlihat dengan melambungnya harga kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Hal ini menyebabkan perekonomian rumah tangga masyarakat yang terganggu serta usaha-usaha mikro masyarakat, khususnya sektor pangan, juga harus memutar otak dengan kenaikan harga bahan pokok dipasaran.

Sektor mikro adalah salah satu jalan keluar dalam menangani kondisi saat ini, salah satunya dengan mendorong pertumbuhan Uusaha-usaha kreatif dan Usaha Mikro Kecil Menengah(UMKM). Lembaga-lembaga keuangan syariah mulai dilirik pemerintah dalam membantu pertumbuhan usaha kreatif dan UMKM ini. Salah satunya adalah dengan diadakannya pertemuan antara para pelaku industri kreatif dengan 13 bank syariah di Indonesia yang diinisiasi oleh Bekraf(Badan Ekonomi Kreatif) RI pada selasa(4/4) kemarin. Pertemuan ini mengindikasikan bahwa lembaga ekonomi syariah memiliki potensi yang cukup besar dalam mengatasi permasalahan-permasalahan ekonomi yang ada pada saat ini.

Peran Lembaga Keuangan Mikro Syariah

Selain lembaga perbankan syariah, lembaga keuangan mikro syariah(LKMS) juga memiliki potensi yang tidak kalah besar. Bahkan, potensi LKMS bisa dikatan bisa lebih besar dan lebih bisa dirasakan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah. Hal itu disebabkan karena bagi masyarakat menengah ke bawah, produk-produk bank banyak yang tidak bisa mereka gunakan dan ada juga karena persyaratan  yang tidak bisa mereka penuhi.

Sudah banyak penelitian dari berbagai daerah yang menunjukan bahwa LKMS dalam hal ini Baitul maal wa tamwil(BMT) memiliki dampak yang signifikan bagi nasabahnya yang meiliki UMKM jika dibandingkan dengan sebelum nasabah tersebut menjadi nasabah BMT. Dampak positif yang dirasakan nasabah BMT antara lain peningkatan omzet, peningkatan penjualan dan bertambahnya asset yang mereka miliki. Hal ini salah satunya disebabkan adanya pendampingan dari BMT kepada nasabah dalam menjalankan usahanya. 

Melihat sedikit tinjauan di atas, lembaga-lembaga keuangan syariah merupakan jalan keluar bagi Indonesia agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Oleh sebab itu, butuh perhatian lebih dari pemerintah terhadap keberlangsungan lembaga keuangan syariah di Indonesia. Di sisi lain, lembaga keuangan syariah juga harus terus melakukan inovasi dan perbaikan layanan agar bisa menarik masyarakat untuk bergabung menjadi nasabah mereka.

Hafizh Khoirruvi, Mahasiswa Ekonomi dan Keuangan Syariah, Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia.

Email : hafizh.khoirruvi@gmail.com