Groeneveld adalah Condet

MENURUT peta Jakarta lama, Condet termasuk ke dalam distrik Cililitan Besar. Data tertulis pertama yang menyinggung–nyinggung Condet adalah catatan perjalanan Abraham Van Riebeeck, ketika masih menjabat Direktur Jenderal VOC di Batavia (sebelum menjadi Gubernur Jendral).

Dalam catatan tersebut, pada tanggal 24 September 1709 Van Riebeck beserta rombongannya berjalan melalui anak sungai Ci Ondet menuju Parung: “Over mijin lant Paroeng Combale, Ratudjaja, Depok, Sringsing naar het hooft van de spruijt Tsji Ondet” (De Haan 1911: 320).

Tanah Condet cukup subur, buah-buahannya manis. Salak Condet yang terkenal itu selain manis juga “masir”. Dulu penduduk Condet memang hidup dari pertanian, walau sebagian kecil ada juga yang menjadi kusir delman atau berdagang.

Di abad ke- 18 orang Belanda menyebut Condet dengan sebutan Groeneveld, yang berarti Tanah Hijau. Pada waktu itu Condet termasuk bagian dari tanah partikulir Tandjoeng Oost atau Tanjung Timur milik Peter Van Der Velde asal Amersfoort (De Haan 1910:50).

Tandjoeng Oost mengalami masa kejayaan ketika dikuasai oleh Daniel Cornelius Helvetius van Riemsdijk yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Setelah dia meninggal pada tahun 1860, Groeneveld menjadi milik putrinya yang bernama, Dina Cornelia, yang menikah dengan Tjaling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara. Ament melanjutkan usaha mertuanya, meningkatkan usaha pertanian dan peternakan.

Setelah Tjaling Ament dan istrinya meninggal, Groeneveld dikuasai oleh Lady Rollinson, seorang kaya dari Inggris. Sebagai tuan tanah yang menguasai Condet, bangsawan Inggris tersebut mengharuskan rakyat Condet membayar pajak. Juru tagihnya para mandor dan centeng tuan tanah.

Setiap minggu rakyat harus membayar blasting atau pajak kompenian sebesar 2,5 sen. Jumlah itu dinilai sangat besar, sebab harga beras ketika itu cuma empat sen per kilogram. Penduduk yang belum membayar blasting diharuskan kerja paksa mencangkul sawah dan kebun milik tuan tanah selama seminggu.

Jika para pemilik sawah atau kebun yang belum membayar pajak kompenian, ganjarannya lebih berat. Hasil sawah dan kebun mereka tak boleh dipanen.

Pemberontakan Entong Gendut

Menghadapi kebijakan tuan tanah seperti itu, rakyat Condet masih berusaha sabar. Namun, ketika kebun milik seorang penduduk bernama Taba dibakar karena belum membayar pajak, mereka akhirnya bangkit melakukan perlawanan. Pada 5 April 1916 Villa Nova diserang oleh para petani Condet. Pemberontakan itu dipimpin Haji Entong Gendut, seorang jawara yang dikenal saleh.

Para pendekar persilatan yang berada di Tanjoeng Oost khususnya, dan Condet umumnya bersatu melawan para tuan tanah dan centeng-centengnya yang sering menindas rakyat. Teriakan-teriakan “Allahu Akbar! Sabilullah! gua kagak takut!” menggema ke seantero Condet, mewakili genderang perang jihad menegakkan amar makruf nahi munkar.

H Entong Gendut, dibantu oleh beberapa tokoh lainnya seperti Maliki, Modin, Saiprin (Ngkong Prin/Babe Cungok), H. Amat Wahab, Said Kramat, Hadi, Dullah, dan orang-orang keturunan Arab dari Cawang seperti Ahmad Al Hadad, Said Mukhsin Alatas, dan Alaydrus, menentang tuan tanah dan Kompeni Belanda.

Akibat serbuan itu, beberapa keluarga tuan tanah berhasil ditawan. Bahkan bebeapa pejabat Belanda yang datang dari Meester Cornelis untuk memadamkan pemberontakan itu juga ditangkap Haji entong Gendut dan kawan-kawan.

Hal ini membuat pihak Belanda marah dan mengerahkan bala bantuan dari Batavia. Pemberontakan berhasil ditumpas. Haji Entong Gendut gugur. Kelihaiannya bermain jurus silat Sapu Angin, tidak menghalangi hunjaman peluru Belanda yang deras mengarah ke dadanya.
Dia tersungkur tertembak ketika terpancing Belanda untuk menyeberangi kali Ciliwung. Konon, menurut cerita rakyat, kekebalan Entong Gendut akan luntur apabila terkena air sungai.

Demang Mester Cornelis yang kala itu memimpin penumpasan rakyat Condet, memerintahkan untuk membawa Entong Gendut ke Rumah Sakit Kwini (kini RSPAD). Namun, di tengah perjalanan dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Satu persatu para pengikutnya ditangkapi.

Setelah pemberontakan itu, tindakan tuan tanah dan Kompeni terhadap rakyat Condet semakin kejam, sehingga tidak ada seorang pun orang dewasa yang berani tinggal di Condet. Mereka semua melarikan diri dari kejaran Belanda. Beberapa pendekar lain seperti Maliki, Modin, Hadi, dan Dullah melarikan diri ke arah timur, yaitu Rawa Binong (sekarang termasuk Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur).

Bahkan di jalan-jalan Batavia sampai tidak ada yang berani mengaku orang Condet. Kala itu banyak pemuda Condet yang ditangkap dan pulang tinggal nama. Situasi mencekam itu digambarkan dalam pantun rakyat Condet yang cukup terkenal :

Ular kadut mati di kobak, Burung betet makanin laron
Entong gendut mati ditembak, Orang Condet pada buron.

(Asep Setiawan, penulis dan wartawan)

sumber : http://nasional.kompas.com/read/2011/07/07/15452689/Groeneveld.Alias.Condet.

Asal Nama Kampung Gedong

Menurut Bintang Betawi pada tanggal 18 November 1903 telah meninggal dunia Tjaling Ament, tuan tanah Tanjung Oost (Tanjung Timur) dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dibawa dari rumahnya di Gambir untuk dikuburkan di Tanjung Timur. Sejumlah pembesar gubernemen, terutama dari kantor asisten residen Meester Cornelis, datang melayat. Sejak beberapa waktu yang lalu Ament tidak tinggal lagi di Tanjung Timur, karena kawasan itu tidak aman, sering disatroni perampok. Padahal landhuis (rumah peristirahatan) di Tanjung Timur itu sangat besar dan merupakan bangunan yang terkenal di masa kumpeni.

Dari keberadaan landhuis itulah lahir nama kampung atau Jalan Gedong di jalan menuju Condet. Landhuis Tanjung Timur kini tidak lagi bisa dinikmati, karena terbakar pada tahun 1985. Sisa-sisanya dapat disaksikan di dekat Jalan Gedong, simpangan dari jalan besar menuju Bogor. Atau persis tusuk sate Jalan Condet Raya di Jalan Arteri TB Simatupang. Terletak di sebelah timur Kali Ciliwung, lokasinya tidak jauh dari pabrik Friesche Vlag, enam kilometer sebelah selatan Kramat Jati. Sejarah landhuis Tanjung Timur tidak bisa dipisahkan dari Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk, anak lelaki dari Gubernur Jendral Jeremias van Riemsdijk yang menjadi gubernur jendral pada tahun 1775-1777.

Tetapi kalau ditelusuri siapa yang membangun landhuis Tanjung Timur, kita akan sampai pada Pieter van de Velde, anak dari Amersfoort, yang tahun 1740-an menjabat klerk. Ia kemudian menjadi anggota Dewan Hindia, direktur dari Sositet Amfiun dan pimpinan rumah sakit. Ketika terjadi pembantaian orang Cina pada tahun 1740, ia mengambil alih tanah di sebelah selatan Meester Cornelis, yang sebelumnya dimiliki oleh Kapiten Cina Ni Hu Kong. Sampai tahun 1750 ia menambah penguasaan tanah di situ, antara lain dengan membeli tanah Bupati Cianjur, Aria Wiratanoe Datar. Tanah itulah yang kemudian dikenal sebagai tanah Tanjung Timur atau Groeneveld.

Di atas tanah itu pada tahun 1756 ia membangun rumah besar (landhuis) dengan model berbeda dari rumah-rumah Belanda di kota tua. Bentuknya adalah vila tertutup. Van de Velde tidak lama menikmati rumah besar itu. Ia meninggal pada tahun 1763. Pewarisnya menjualnya pada tahun 1759 pada Adriaan Jubbels, seorang tuan tanah kayaraya dari usaha penggilingan tebu di sekitar Betawi. Ketika ia meninggal pada tahun 1763, rumah Groeneveld dibeli oleh Jacobus Johannes Craan, yang kemudian memperbaiki bangunan dan mengganti pintu dengan kayu ukiran.

sumber : Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial lewat infocondet.com (Sabtu, 04 Agustus 2007)