Diktum 7 “Pesan Jakarta”

“Kami tetap pantang mundur dalam dukungan kami untuk legitimasi perjuangan rakyat Palestina, dalam rangka mengamankan hak-hak mereka yang tidak bisa dihilangkanuntuk menentukan nasib sendiri dan hak untuk merdeka, dan menegaskan kembali tuntutan kami terhadap penarikan pasukan Israel dari seluruh wilayah Arab yang diduduki, termasuk Yerusalem. Kami hatap penyelesaian masalah Palestina secara adil dan langgeng atas dasar prinsip-prinsip dan resolusi yang ditetapkan oleh PBB, harus segera tercapai melalui proses perdamaian yang kini sedang berlangsung.”

Diktum 7 “Pesan Jakarta” yang disepakati pada akhir Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok ke sepuluh (KTT GNB X) di Jakarta, September 1992.

Dikutip dari buku “Indonesia Timur Tengah : Masalah dan Prospek” oleh Riza Sihbudi yang terbit pada tahun 1997.

Zakariyya Ar Razi; Teladan para Dokter

“Ia tidak ingin menggunakan dunia kedokteran untuk sarana mencari penghasilan dan mengumpulkan kekayaan. Dunia kedokteran dipandangnya sebagai sarana untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.”

Memiliki nama lengkap Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakariyya Ar-Razi atau yang dijuluki Rhazes di dunia Barat. Ar-Razi Lahir di Rayy, Teheran Sekitar tahun 865 M dan wafat sekitar tahun 313 H/925 M dalam usia 62 Tahun di kota kelahirannya, Rayy[1]. Ketika usia muda, Ia sangat menggemari musik, terutama kecapi dan mahir memainkan harpa. Ketika dewasa mulai menekuni filsafat, matematika, kimia, dan kesusastraan. Ia dibesarkan oleh keluarga yang sangat kental dengan agama.

Ia pernah belajar dan bekerja dalam bidang kimia dibawah bimbingan Hunayn ibn Ishak (809-877 M)[2]. Ar-Razi dikenal sebagai ilmuwan yang sangat terampil dalam melakukan proses-proses kimia, seperti distilisasi[3], kristilisasi[4], filtrasi[5], sublimasi[6], kalsinasi[7], sintesa-sintesa dan proses analisis lainnya. Dalam bidang ini, Ar-Razi merupakan ilmuwan yang pertama kali mengklasifikasikan berbagai zat kimia ke dalam tiga bagian, yaitu mineral, hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan asumsi bahwa hewan dan tumbuhan juga mengandung unsur kimia.

Ar-Razi juga ilmuwan yang pertama kali menemukan Air Raksa (Hg) yang banyak digunakan dalam kegiatan dunia kedokteran. Saat ini Air Raksa juga banyak digunakan dalam termometer atau barometer walaupun sudah mulai tergantikan dengan alat ukur modern karena pertimbangan sifat toksisitasnya. Di Eropa, Raksa arau Merkuri baru dikenal pada masa Czar Rusi Alexei Mikhailovitsy yang memerintah pada 1645-1676 M.

Begitu gemilangnya Ar-Razi ketika mendalami dan menciptakan sesuatu dalam bidang Kimia. Namun, ternyata dia harus meninggalkan dunia tersebut karena mengalami pelemahan pada alat penglihatannya yang diakibatkan karena eksperimen-eksperimen kimia yang dilakukannya. Lantas, hal itu mengharuskannya pergi ke seorang dokter. Ketika ia mendatangi dokter, dokter tersebut meminta sekitar lima ratus dinar sebagai bayaran atas pelayanan medisnya. Ia menyimpulkan bahwa dunia kedokteran telah dijadikan alat untuk menghimpun kekayaan. Ar-Razi mengatakan, “Ini adalah suatu bencana, Aku tidak ingin seperti itu.” Kejadian itu mulai mendorong Ar-Razi untuk menekuni dunia kedokteran.

Keseriusannya dalam menekuni dunia kedokteran membuat Ar-Razi melesat menjadi seorang yang dikenal sebagai dokter muslim terkemuka. Bahkan, menjelang usia 30 tahun Ia dipercaya sebagai pemimpin sebuah rumah sakit yang dikenal sebagai pusat pendidikan dan penelitian kedokteran di daerah Rayy. Jabatan itu diberikan oleh Gubernur Rayy yang bernama Manshur bin Ishaq bin Ahmad bin Azad yang memerintah di Rayy pada tahun 290-296 H/902-908 M.

Setelah selesai memimpin rumah sakit di Rayy, ia juga dipercaya sebagai kepala rumah sakit di Baghdad. Pada zaman itu, Ia terkenal sebagai dokter yang paling andal. Berkat keahliannya di dalam bidang kimia, ia berhasil menggunakan kimia sebagai pendukung kegiatan kedokterannya. Ia juga orang yang pertama kali menyatakan bahwa kestabilan kondisi jasmani sangat terpengaruh oleh keadaan kondisi jiwa. Teori tersebut merupakan teori yang digunakan dalam dunia kedokteran modern. Tidak heran Ia dikenal sebagai salah satu bapak kedokteran modern.

Ar-Razi memiliki banyak khazanah yang sangat bermanfaat bagi manusia. Ialah yanng pertama kali melakukan pengobatan dengan cara pemanasan saraf, Ia juga yang pertama kali mendiagnosaHypertensi (Darah Tinggi), Ia juga yang pertama kali mengemukakan metode pengobatan kai atau yang sekarang amat populer dengan akupuntur. Yaitu dengan cara menusuk titik tertentu dengan besi runcing yang dipanaskan dengan minyak mawar atau minyak cendana. Dalam beberapa karyanya, ia juga berbicara tentang pendiagnosaan penyakit cacar, penyakit pada anak-anak, dan Injeksi Urethral.

Khazanah lain yang tidak kalah pentingnya, adalah mengenai kepribadiannya. Sebagai seorang dokter, Ar-Razi dikenal sebagai dokter yang pemurah. Ia memperlakukan orang miskin dengan baik dan mengobati mereka tanpa menerima imbalan apapun. Ini sangat relevan dengan apa yang dicita-citakannya semasa awal mencanangkan diri untuk menekuni dunia kedokteran. Ia tidak ingin menggunakan dunia kedokteran untuk saran mencari penghasilan dan mengumpulkan kekayaan. Dunia kedokteran dipandangnya sebagai saran untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Ar-Razi adalah seorang ilmuwan yang sangat produktif dalam menuliskan hasil-hasil penemuannya. Selama hidupnya, tak kurang dari 232 buah karya telah Ia tulis. Karya-karya tersebut mencakup berbagai bidang, seperti Kimia, Kedokteran, Astronomi, Sejarah, Teologi, Etika dan Filsafat. Selain itu, Ar-Razi juga menulis buku tentang materi, ruang, nutrisi, waktu, gerak dan optik.

  • Al-Hawi

Al-Hawi merupakan sebuah ensiklopedi bidang kedokteran yang berjumlah 20 jilid. Karya ini dikenal sebagai intisari pengetahuan kedokteran di Yunani, Syiria dan Arab. Karya ini merupakan hasil tulisan yang dibuat Ar-Razi dengan proses membaca, meneliti dan mengeksperimenkan berbagai bentuk ilmu kedokteran selama 15 tahun. Al-Hawi dianggap juga sebagai buku induk ilmu kedokteran dan merupakan karya Ar-Razi yang paling fenomenal selama hidupnya.

Setelah 50 tahun wafatnya Ar-Razi, buku Al-Hawi tersisa hanya 2 jilid. Barulah ketika pihak kerajaan kristen eropa mulai merasakan betapa pentingnya buku Al-Hawi bagi kesehatan para keluarga kerajaan, dicarilah dan ditemukan jilid lainnya di berbagai museum di eropa. Raja Charles I memerintahkan agar Al-Hawi diterjemahkan ke dalam bahasa latin yang pada saat itu menjadi bahasa resmi ilmu pengetahuan di eropa.  Penerjemahan tersebut dilaksanakan oleh Faray bin Salim[8] dan Gir Farragut. Al-Hawi ini disalin dalam bahasa latin dengan menggunakan nama Continens dan menjadi rujukan utama dalam bidang ilmu pengetahuan di Eropa di sepanjang abad ke-17.

  • Al-Asrar

Al-Asrar (Rahasia-rahasia) merupakan salah satu karya Ar-Razi yang telah diterjemahkan dalam bahasa asing oleh Gerard dari Cremona pada abad ke-12 M. Menurut Dr. Gustave Le Bon, buku ini menjadi pegangan praktikum dunia kedokteran sampai abad ke-19 M.

  • Al-Judari Wa Al-Hasbah

Al-Judari Wa Al-Hasbah (Cacar dan Campak) telah diterjemahkan oleh J. Ruska dengan judul “Ar-Razi’s Buch:Geheimnis der Geheimnisse”. Edisi Inggrisnya telah dicetak sebanyak 40 kali sejak tahun 1498-1866. Buku ini sebagai sumber pengetahuan bagi dokter di Eropa mengenai penyakit Cacar dan Campak.

  • At-Thibb Al-Manshur

Karya ini dipersembahkan atas dasar penghormatannya terhadap gubernur Rayy, Al-Manshur. Ia sangat menghormati Al-Manshur karena telah diberikan kepercayaan dan keleluasaan dalam menggeluti bidang kedokteran.

    • At-Thibb Ar-Ruhany
    • Ash-Shirotul Falsafah
    • Kitab Al-Lahdzah
    • Kitab Al-Ibn Al-Ilaby Asy-Syukr ‘Ala Proclus
  • Dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Natsir Arsyad, Muhammad. 1990. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah dari Ibnu Jabir Hingga Abdus Salam. Bandung: Penerbit Mizan.

Asti, Badiatul Muchlisin dan Junaidi Abdul Munif. 2009. 105 Tokoh Penemu dan Perintis Dunia. Yogyakarta: Narasi.

Anshari, Saifuddin. 2004. Wawasan Islam:pokok-pokok pikiran tentng paradigma dan sistem islam. Depok: Gema Insani.

Hamdi, Ahmad Zainul. 2004. Tujuh Filsuf Muslim Pembuka Pintu Gerbang. Yogyakarta: Lkis.

[1] Sebelumnya dikenal dengan nama Arsacia dan merupakan kota tertua di Provinsi Teheran, Iran.

[2] Hunayn bin Ishak adalah seorang ilmuwan bidang kedokteran di Baghdad. Dikenal sebagai “Sheikh of Translator” karena mampu menerjemahkan berbagai buku dari beberapa bahasa. Keahlian ini ditopang dengan keahliannya dalam menguasai bahasa Arab, Syria, Yunani dan Persia.

[3] Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.

[4] Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan, melt (campuran leleh), atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi juga merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, di mana terjadi perpindahan massa (mass transfer) dari suat zat terlarut (solute) dari cairan larutan ke fase kristal padat.

[5] Filtrasi adalah pemisahan campuran berdasarkan ukuran partikelnya, yaitu metode pemisahan zat yang memiliki ukuran partikel yang berbeda dengan menggunakan alat berpori (penyaring/filter).

[6] Sublimasi adalah perubahan wujud dari padat ke gas tanpa mencair terlebih dahulu.

[7] proses pemanasan suatu benda hingga, temperaturnya tinggi, tetapi masih di bawah titik lebur.

[8] Seorang dokter Yahudi di Secilia

Riyan Hidayat

Condet, 24 Oktober 2012

Abu Ubaidah bin Jarrah: Kepercayaan Umat Nabi Muhammad SAW

mengacu pada kitab : الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Abu Ubaidah Ibn Jarrah

[ 14 ] أبو عبيدة بن الجراح اسمه عامر بن عبد الله بن الجراح

Abu Ubaid bin Al-Jarrah nama aslinya Amir bin Abdullah bin Al-Jarroh

Abu Ubaidah bin Jarrah terlahir dengan nama lengkap Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Uhaib bin Dhabah bin Al Harist bin Fahr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin  Muhdar bin Nizar bin Ma`ad Al quraisy Al Fihry al maky. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Fihry. Ia adalah anak dari Abdullah bin Jarrah, seorang yang tidak mengakui dan menolak ajaran Islam.

Dalam Manaqib Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhu yang disusun Az Zamakhsyari, disebutkan bahwa Abu Ubaidah bin Jarrah merupakan salah seorang dari sepuluh sahabat Nabi SAW yang dijanjikan masuk surga (As Sabiqunal Awwalun). Mereka adalah Khulafaurasyidin yang terdiri dari Abu Bakar Ash-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Lalu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash, Sa’id bin Zaid bin Amru bin Nufail dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Merekalah yang disebutkan dalam Surat At Taubah Ayat 100.

Allah SWT Berfirman,

orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.(QS. At Taubah : 100)

Abu Ubaidah masuk Islam satu hari setelah Abu Bakar Ash Shiddiq masuk Islam, dan atas bantuan Abu Bakar Ia masuk Islam. Abu Ubaid juga salah seorang yang ikut hijrah ke negeri Habasyah(Ethiopia) dan Yatsrib(Madinah) dikarenakan adanya penyiksaan dan pengejaran terhadap mukmin oleh kaum Kafir Quraisy. Ia adalah salah sorang penghapal qur’an pada masa itu.

Sifat Abu Ubaidah

Abu Ubaidah adalah salah seorang yang amat mencintai Rasulullah SAW. Pada saat perang Uhud mencapai puncaknya, Rasulullah SAW menjadi target utama dalam penyerangan dan pengepungan dari pihak musuh. Senjata seperti panah dan sebagainya mengarah ke sasaran utama bagi pihak musuh yaitu Rasulullah yang membuat Nabi SAW terluka di bagian kepala dan gigi depan menjadi patah. Bahkan, salah seorang yang bernama Ibnu Qami’ah menyerang rasulullah dan membuat pipi Rasulullah SAW terluka karena terkena kancing baju perang Ibnu Qami’ah.

Abu Ubaidah bersama Sahabat lainnya segera melindungi dan membuat barisan pertahanan bagi keselamatan Rasulullah SAW. Darah bercucuran dari wajahnya, berulang kali disekanya darah yang mengalir dari kepala. Sesaat dia mengatakan, “Bagaimana suatu kaum akan menang sedangkan mereka membiarkan nabi yang menuntunnya kepada Tuhannya terluka wajahnya?” Abu Ubaidah juga berusaha mencabut kancing yang melukai pipi Rasulullah SAW dengan kedua gigi nya yang mengakibatkan giginya patah.

Disisi lain, Rasululah juga amat mencintai Abu Ubaidah. Dia adalah orang yang dapat dipercaya oleh nabi. Dalam suatu riwayat mengatakan, Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Aisyah siapakah sahabat Rasulullah yang paling dicintai Rasul? Aisyah menjawab,” Abu Bakar, lalu umar, lalu Abu Ubaidah bin Jarrah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah juga amat mempercayai Abu Ubaidah. Dibuktikan ketika dua orang uskup Nasrani asal Najran mendatangi madinah untuk menemui Rasulullah SAW untuk meminta dicarikan seseorang yang bisa menengahi dan menjadi hakim bagi persoalan di Najran sekaligus mengajarkan perihal agama Islam. menjanjikan seseorang yang dapat dipercaya bagi mereka. Para sahabat bertanya-tanya siapakah yang menjadi orang kepercayaan Nabi SAW.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, diterangkan bahwa Al Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah Radiyallahu’anhu Ia berkata: Al ‘Aqib dan As Sayyid, keduanya adalah pemuka Najran, mereka datang kepada Rasulullah SAW. Mereka bermaksud untuk mengajak Muhaballah (Saling melaknat dengan menyebut nama Allah) dengan Nabi Saw, lalu salah satu dar ikeduanya berkata kepada yang lainnya: ‘Jangan kau lakukan hal itu! Demi Allah, jika itu seorang Nabi, lalu kita saling melaknat dengannya, maka kita dan keturunan kita tidak akan beruntung.’ Setelah itu keduanya berkata: ‘ Kami akan memberikan apa yang kamu minta. Utuslah bersama kami seseorang yang dapat dipercaya, dan janan engkau utus kecuali yang benar-benar jujur.’ Beliau pun bersabda: ‘Aku pasti akan mengutus seseorang yang benar-benar dapat dipercaya untuk ikut bersama kalian.’ Para sahabatpun berharap mendapat kehormatan sebagai utusan beliau. Lalu beliau bersabda: ‘berdirilah wahai Abu Ubaidah bin al-Jarrah.’ Ketika Abu Ubaidah berdiri, Rasulullah SAW bersabda: ‘Ini adalah orang yang dapat dipercaya dari umat ini.’”(HR. Al Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasa’I, dan Ibnu Majah)

Dikutip dari sebuah sumber, Umar ibnul Kaththab bercerita tentang hal itu, “aku belum pernah ingin mendapatkan pangkat lebih dari itu pada waktu itu, mudah-mudahan akulah orang yang dimaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, Aku pergi menantikan waktu zhuhur. Sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat zhuhur, beliau menoleh ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicari. Aku menjulurkan kepalaku supaya beliau melihatku, tetapi beliau masih saja mencari hingga beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, lalu beliau berseru: “kau pergi bersama mereka dan putuskan sengketa yang terjadi antara mereka dengan sebenar-benarnya.”

 

Al Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik Radiyallahu Anhu, bahwa Nabi SAW bersabda,

لِكُلِّ أُمّةِ أَمِيْنٌ, وَأَمِيْنُ هَذِهِ الأُمّةِ، أَبُوْا عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرّاح

Setiap Umat memiliki kepercayaan, dan orang kepercayaan dari umat ini, ialah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Abu Ubaidah mengaku senang atas penunjukkan dan pemberian amanat ini dan segera ikut untuk pergi ke Najran. Ia menjadi suri tauladan bagi warga Najran hingga masa tugasnya di Najran berakhir.

Abu Ubaidah memang begitu dicintai banyak orang, terlebih para Sahabat Nabi. Bahkan, ketika Rasulullah SAW wafat, banyak orang dating kepadanya dengan maksud membai’at dirinya termasuk Umar bin Khattab sebagai pemimpin pengganti Rasulullah SAW bagi umat Islam saat itu. Beliau justru mengatakan, “Belum pernah aku melihat kau tergelincir seperti sekarang sejak engkau Islam. Apakah kau akan membaiatku, sedangkan ash-Shiddiq, shahabat kedua Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Gua Hira’, ada di tengah-tengah kita?” hal ini menyadarkan Umar dan segera menyuruh orang memanggil Abu Bakar dan mengajaknya ke Saqifah bani Saidah. Pada saat itu,  kaum anshar sedang melakukan rapat. Abu Bakar pun Bertanya: “Ada apa ini?” mereka menjawab pertanyaan Abu Bakar: “dari kami diangkat amir dan dari kalian juga diangkat amir”. Abu bakar mengatakan bahwa boleh diangkat Amir dari kedua orang yang ditunjuknya, yaitu Umar bin Khattab dan Abu Ubaid. Keduanya mengatakan tidak ada yang menyamai kedudukan Abu Bakar saat itu dan justru membai’at Abu Bakar.

Bahkan, ketika dirinya sudah meninggal dunia Umar bin Khattab masih saja menyebutkan namanya. Diriwayatkan, Umar pernah berkata, “Apabila aku mati, sedangkan Abu Ubaid masih hidup maka aku akan menyatakan ia sebagai penggantiku. Jika Tuhanku menanyakan tentang masalah ini maka aku akan menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya, setiap nabi mempunyai orang kepercayaan dan orang kepercayaanku adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.” Akan tetapi, Abu Ubaidah saat ini telah wafat.”

Tidak Cinta Dunia

Salah satu keteladanan seorang Abu Ubaidah adalah penyikapannya terhadap harta. Ia jauh dari kehidupan dalam gerlapnya dunia dan tak pernah memikirkannya. Pernah dalam suatu riwayat yang disampaikan Thabrani dalam Al Kabir dari Malikud Darr (Malik bin ‘Iyadh, Hamba sahaya Umar). Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani berkata, “Umar Ibn Khattab radiyallahu anhu mengambil empat ratus dinar, dan memasukkannya ke dalam kantung uang. Lalu ia mengatakan kepada pelayannya, “Bawa ini kepada Abu Ubaidah bin Jarrah radiyallahu anhu dan ikuti ia sesaat, hingga kamu melihat apa yang dikerjakannya (dengan uang ini)!”

Pergilah sang pelayan tadi bemaksud menemui Abu Ubaidah dan mengatakan kepadanya, “Amirul Mu’minin berpesan kepadamu agar menggunakan uang ini untuk memenuhi kebutuhan anda.” Abu Ubaidah menjawab, “Semoga Allah melindungi Umar dan memberikan rahmat kepadanya.” Lalu berkata lagi kepada pelayan Umar, “Bawalah tujuh dinar untuk si fulan, lima dinar untuk si fulan, …” hingga uang itu habis.

Dalam riwayat lain yang disampaikan Abu Nuaim, meriwayatkan bahwa urwah berkata, “Umar Ibn Khattab mendatangi Abu Ubaidah bin Jarrah radiyallahu anhu yang ketika itu sedang berbaring di atas alas binatang kendaraannya, dan berbantalkan tas. Lalu Umar berkata kepadanya, ‘mengapa engkau tidak menggunakan sesuatu yang seperti digunakan oleh sahabat-sahabatmu yang lain?” Abu Ubaidah  menjawab, ’Wahai Amirul mu’minin, hanya dengan ini aku bisa beristirahat di tengah hari.”

Dalam peristiwa yang lain, Mu’ammar juga pernah mengatakan bahwa ketika Umar berkunjung ke Syam, rakyat dan pembesar negeri itu menyambutnya. Lalu Umar berkata, “Dimana Saudaraku?”

Mereka bertanya, “Siapa?”

Umar menjawab, “Abu Ubaidah.”

Mereka lalu mengatakan, “Sebentar lagi Ia akan menemuimu.”

Ketika Abu ‘Ubaidah datang, Umar turun dan kemudian merangkul Abu Ubaidah dan menanyakan keadaannya. Lalu Umar masuk ke dalam rumah Abu Ubaid. Ia tidak menemukan perabot apapun kecuali hanya pedang, perisai, dan binatang kendaraannya.

Sumber :

Kumpulan khotbah Ali Bin Abi Thalib – Sayyid Ahmad Asy Syailani

Ar-Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam – Said Hawwa

Tarikh Al-Khulafa – Imam As Suyuthi

Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 – Dr.’Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh

Tokoh-tokoh yang diabadikan al-Quran, Volume 1 – Abdurrahman Umairah

——Semoga Berkenan, dipersilahkan kritik saran, mohon maaf atas kesalahan—–

Sumber Gambar : http://files.myopera.com/quranteaching1989/blog/Asharaye-Mobashera.jpg

Untuk selanjutnya akan dibahas, Abu Ubaidah Sebagai Pemimpin

Kitab Nama – Nama dan Julukan Karya Imam Ahmad bin Hanbal (Poin 11. Tentang Ummu Salamah, Istri Rasulullah SAW)

Diambil dari Kitab

الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Ummu Salamah, Istri Rasulullah SAW

[ 11 ] أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم اسمها هند بنت أبي أمية بن المغيرة بن عبد الله بن عمر بن مخزوم

Ummu Salamah, Istri Nabi SAW. Nama Aslinya Hindun Binti Abi Umayyah Bin Al Mughiroh bin Abdullah bin Umar Bin Makhzum

Ummu  Salamah atau Siti Hindun Binti Abi Umayyah adalah  anak dari Abi Umayyah yang terkenal terhormat dan terkenal dermawan antar sesama bangsa Quraisy. Ayahnya tersebut pernah mendapat gelar Zaad Ar-Rakhbi yang artinya “Pengembara yang berbekal”. Abi Sufyan sering bepergian dengan membawa perbekalan yang cukup, bahkan tidak jarang juga mencukupi perbekalan musafir lainnya. Adapun  Ibu beliau bernama ‘Atikah  binti Amir bin Rabi’ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat. Hal ini menandakan Ummu Salamah memiliki nasab yang sangat terhormat. Selain itu, Ummu Salamah terkenal berparas cantik dan cerdas.

Ummu Salamah juga seorang mantan istri dari Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi atau yang lebih dikenal dengan Abu Salamah yang merupakan salah satu sahabat Nabi SAW yang ikut dalam 2 hijrah. Pernikahannya membuahkan anak yang bernama Salamah yang lahir di bumi Habasyah (Ethiopia), serta Umar, dan dua orang putri Durrah dan Zainab yang lahir di Kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah. Kematian Abu Salamah berawal ketika memimpin pertempuran dalam perang Uhud. Luka yang parah didapatinya dalam perang Uhud yang tak kunjung sembuh hingga kematian menjemputnya ketika kembali dari ekspedisi pertempuran di Qathn yang telah dimulai sejak Shafar 4H.

Kematian Abu Salamah membuat kesedihan yang amat mendalam bagi Ummu Salamah yang pada saat itu sedang hamil anaknya yang bernama Zainab. Kesedihannya bertambah manakala dirinya sedang dalam keadaan miskin dan ke-3 anaknya masih kecil-kecil. Di Akhir masa ‘iddahnya sebenarnya Abu Bakar sudah berniat untuk meminangnya dengan tujuan untuk menyelamatkan kelangsungan hiidup Ummu Salamah dan anak-anaknya. Namun, Ummu Salamah tidak menerima pinangan Abu Bakar dengan sangat sopan. Dalam riwayat lain, Umar juga mencoba meminangnya walaupun tidak di setujui oleh Ummu Salamah.

Rasulullah SAW tidak dapat berdiam diri atas musibah yang menimpa Ummu Salamah yang semakin membuatnya sengsara. Beliau mengirimkan seseorang untuk melamarkan Ummu Salamah untuknya, dalam permintaannya itu, Ummu Salamah mengatakan “Saya adalah seorang yang sudah tua, seorang yang kekanak-kanakan yang punya anak dan sangat pencemburu.” Lalu, Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:”Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo’a kepada Allah agar menghilangkan sifat itu dari dirimu.” Kemudian Ummu Salamah memanggil Anaknya, Umar dan mengatakan, “Berdirilah Umar, Nikahkan Aku dengan Rasulullah SAW.” Ummu Salamah adalah istri yang kelima Rasululullah SAW setelah Saudah.

#Referensi

* teladan indah rasulullah dalam ibadah oleh Ahmad Rofi’ Usmani

* 99 Kisah Teladan Sahabat Perempuan Rasulullah oleh Manshur Abdul Hakim

* Kelengkapan Tarikh Edisi Lux Jilid 3 oleh KH. Moenawar Chalil

* 36 Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah Saw oleh Muhammad Ali Quthb

* Wangi Akhlak Nabi oleh Ahmad Rofi’ Usmani

* Merajut Cinta Benang Perkawinan oleh Wawan Susetya

——Semoga Berkenan, dipersilahkan kritik saran—–

Gambar : http://farm4.static.flickr.com/3167/2640770157_3dc2077f60.jpg

Kitab Nama – Nama dan Julukan Karya Imam Ahmad bin Hanbal (Poin 5)

Diambil dari Kitab

الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Ali Bin Abi Thalib

[ 5 ] قال أبي بلغني أسماء نفر من بني هاشم علي بن أبي طالب أبو طالب اسمه عبد مناف بن عبد المطلب وعبد المطلب اسمه شيبة بن هاشم وهاشم اسمه عمرو بن عبد مناف بن قصي وقصي اسمه زيد بن كلاب بن مرة بن كعب

Ali Bin Abi Thalib namanya ‘Abdu Manaf Bin Abdul Mutholib, Abdul Mutholib namanya Syaibah Bin Hasyim, Hasyim namanya Amru bin Abdu Manaf bin Qoshi, Qoshi namanya Zaid bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab

# Kalau dilihat ini berhubungan dengan poin ke-4 tadi pagi. yaitu dalam

http://www.facebook.com/notes/riyan-hidayat/kitab-nama-nama-dan-julukan-karya-imam-ahmad-bin-hanbal-poin-1-4/10151329999419517,

[ 4 ] قال أبي بلغني أن اسم أبي بكر الصديق عبد الله بن عثمان بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم بن مرة

Nama Asli Abu Bakar ialah ‘Abd Allah ibn ‘Utsman bin Amir bi Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah

-> Dapat dilihat bahwa Silsilah Abu Bakar Ash-Siddiq dan Ali Bin Abi Thalib bertemu pada Murrah bin Ka’ab Bin Lu’ay. 

Kitab Nama – Nama dan Julukan Karya Imam Ahmad bin Hanbal (Poin 1 – 4)

Diambil dari Kitab

الأسامي والكنى – إمام أحمد بن حنبل

Tentang Abu Bakar Ash-Siddiq

[ 1 ] حدثني أبي أحمد بن محمد بن حنبل ثنا عبد الرزاق قال قال معمر قال بن سيرين كان اسم أبي بكر الصديق عتيق بن عثمان

Nama Asli Abu Bakar As Siddiq adalah ‘Atiq bin Utsman

[ 2 ] حدثني أبي ثنا سفيان بن عيينة سمعه من بعض المدنيين عن بن الزبير قال اسمه عبد الله بن عثمان يعني أبا بكر الصديق

Abdullah Bin Usman ialah Abu Bakar

[ 3 ] قال وقريء على سفيان وفيه نزلت فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى

Dia Mengajak kepada Taqwa dan kebenaran dengan kebaikan

[ 4 ] قال أبي بلغني أن اسم أبي بكر الصديق عبد الله بن عثمان بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم بن مرة

Nama Asli Abu Bakar ialah ‘Abd Allah ibn ‘Utsman bin Amir bi Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah