Ketiak Punya Cerita

deodorantSiapa hari ini yang tidak memakai deodorant? Sesuatu yang dioleskan di celah diantara pangkal tangan dengan bagian sisi dada alias ketiak. Motif kesehatan, gaya hidup, atau kosmetik menjadi sebuah alasan bagaimana deodorant digunakan oleh manusia (tidak menyeluruh) setiap hari. Namun,  darimana asalnya Deodorant? Siapa yang menggagas?

Deodorant pertama kali ditemukan pada abad ke 9 di Andalusia oleh Abu Hasan Ali bin An Nafi atau yang dikenal dengan Ziryab. Deodorant yang ditemukan oleh Ziryab bentuknya mirip dengan yang ada padasaat ini. Terdapat roll pengoles krim untuk ketiak dan pegangannya.

Mengapa bisa komersial? Pada tahun 1888 Seorang ilmuwan Amerika (saya belum tahu namanya) mengembangkan deodorant ini menjadi barang komersil dan dapat diperjual belikan. Barulah, pada tahun 1965 seseorang yang bernama Jules Montenier mematenkan konsep serupa dan semakin memperluas sisi komersialitas dari deodorant ini.

*RH

Ketika Menulis Menjadi Jalan Kearifan #6

“Ananda, katakanlah hal baik jika kamu bisa. Jadilah berarti dan bermanfaat bagi dunia dengan kemuliaan akhlakmu. Hiasi mulutmu dengan mengatakan kebajikan.”

“Ananda, jika kau tak mampu menyusun kata-kata mulia, katakanlah yang kamu bisa selama tidak menyakiti jiwa yang lain. Katakan selama masih ada dalam kebaikan.”

“Ananda, bila dirimu tak dapat mengatakan hal baik. Diamlah! Cukup Diamlah! Semoga hal itu yang akan menolongmu.”

Jakarta, 30 Juli 2014

Ketika Menulis Menjadi Jalan Kearifan #1

Menulislah tentang waktu. Ingatkan melalui tulisan dengan suasana yang rendah hati, kepada yang diingat atau bahkan yang tak pernah dikenal. Bahwa waktu akan terus berlari namun kan terus berkurang hingga masanya akan habis pada akhirnya. Berikan kesempatan kepada umur yang telah diberikan Allah untuk menyusun bangunan-bangunan kebaikan.

Siapa Lagi Yang Bertanya

Ada langit yang disambangi oleh pria bersayap sejak lama. Ia adalah perwakilah dari golongan bangsawan yang punya harta, kemewahan dan kecukupan dunia. Telah lama ia menetap dilangit dan tak pernah menoleh ke bawah untuk sekedar bercerita bagaimana rasa nikmat segelas teh yang diminum oleh para anggota golongan bangsawan yang kaya raya. Ia tak sempat berbagi keceriaan tentang bagaimana nikmatnya bersalaman antar sesama manusia. Ia tak sempat berbagi mimpi kepada penduduk bumi nan jauh dibawah langitnya.

Satu hari, ketika Ia mati dan jasadnya jatuh ke bumi. Tak ada satu orang pun di
bumi nan jauh dibawah langit yang mengenali wajahnya. Seperti Orang asing yang terasing dalam kehidupan yang asing. Pada akhirnya, Pria bersayap tak pernah terurus jasadnya, karena para penduduk bumi tiada yang mengenalinya.

Boleh jadi, seharusnya pria bersayap haruslah hidup berdampingan
dengan para penduduk bumi nan jauh dibawah langit, agar saling
mengetahui tentang keindahan merasakan atmosfer langit, dan
kumuhya dunia nan jauh dibawah langit.

28Feb2014

Siapa Lagi yang Bertanya

Siapa lagi yang bertanya, sementara semua sudah tidak peduli. Pohon semakin kurus kering lagi roboh, Alam semakin pekat tak memikat, Bumi semakin tak menentu nasibnya. Dimana manusia? Habis manis sudah sepat disingkirkan. Tunggu saja semua pertunjukkan tergulung habisnya kesabaran Sang Maha Pencipta.

“Tiada masalah jika kemauan tak jadi ambisi utama, ambisi utama dalam bahasa lainnya adalah serakah jika kian menggila”