Kemping di Ciliwung, 21-22 Januari 2012; Sebuah Perjalanan Memaknai kebersamaan dengan Alam

Sebelumnya, Mohon maaf  jika pemilihan judul mungkin agak lebay. Tapi begitulah adanya yang mungkin sepadan dengan apa yang terjadi tanggal 21-22 Januari 2012 di desa Glonggong, Bojong Gede. Pada tanggal tersebut, Transformasi Hijau bekerja sama dengan komunitas ciliwung telah melaksanakan sebuah perhelatan yang begitu besar yang bisa dilihat dari segi nilai. Acara ini tidak wah secara material, tidak ada dangdutan atau mengundang artis ibu kota, tidak menginap di vila atau berhubungan dengan sesuatu yang mewah. Hal ini lebih kepada kemewahan sebuah pemikiran atau pembelajaran tentang berbagai hal tentang alam dan ciliwung. Beruntungnya, saya adalah salah satu dari mereka yang meramaikan perhelatan ini sehingga bisa menikmati kemewahan itu. Kemping di ciliwung diikuti oleh berbagai elemen komunitas, pelajar dan mahasiswa. Terdiri dari Komunitas ciliwung, KPL Angsana IPB, Teens go green, GC UI dan lainnya.

Setiap peserta yang ikut perhelatan ini, pasti memiliki cerita masing-masing dalam mengikuti acara ini mulai dari berangkat hingga usainya acara, tak terkecuali saya. Berangkat dari rumah pada pukul delapan pagi dengan niat sampai di Bojong pukul Sembilan pagi. Naik ular besi dari stasiun pasar minggu menuju peron bojong gede dilakoni dengan suasana yang biasa saja. Niatnya sih setelah naik kereta mau langsung jalan kaki aja sampai ke TKP karena inget pesan bang badak. Berkata bang badak : ‚Äújalan kaki aja! Cuma 600 meter kok. 10 menit dari stasiun.‚ÄĚ Beruntunglah saya Tanya narasumber local yang membuat saya berubah pikiran. Berkata tukang belimbing : ‚ÄúJauh dek, langsung naik aja 07 atau ojek.‚ÄĚ Setelah mengucapkan terima kasih, bergegaslah saya menuju TKP Glonggong.

Selanjutnya, yang luar biasa adalah ketika naik 07 jurusan bogor kota. Supirnya sangat  luar biasa hingga saya keterusan sampai Cilebut atau malah hampir Bogor. Hal ini membuat saya kembali memutar arah dan ngongkos lagi. Turun di jalan haji wahid, berjalan kaki melewati rel kereta, dan sampailah saya di tempat yang sudah membuat saya penasaran ini. Rimbunan pohon bambu dan kesejukan menyambut dengan lembut setiap derap kaki yang telah lemas karena nyasar ini.

Waktu menjelang siang, mentari sedang berdansa diujung langit, kami diajak untuk mendirikan tenda dan menyambangi area yang akan kami gunakan untuk mendirikan tenda dan berkumpul. Pasca ke area seluruh peserta dikumpulkan lagi si saung dan dibagi kelompok.  Saya tergabung dalam kelompok satu yang dibimbing oleh saudari ulfah wulandari. Sebagaimana kelompok lain, kelompok ini juga akan menerima materi-materi awal yang disajikan oleh berbagai ahli di bidangnya. Mulai dari tentang burung, vegetasi, air, serangga, hingga herpetfauna.

Kami menjalani tahap mulai dari pos burung di bertempat disisi sungai dekat jembatan yang materiya mencakup tentang burung yang diisi bang Iting dan ka Agnes. Otak kami dipacu dengan berbagai pembahasan mulai dari deskripsi burung, ciri ‚Äď ciri burung, hal penting dalam pengamatan burung hingga pembuatan sketsa burung. ¬†Lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu pos vegetasi yang bertempat dibawah rimbunan bambu yang diisi oleh ka febri. Disini kami mengenal berbagai vegetasi lokal mulai dari jenis bamboo tali, lempuyang, dan lainnya. Pos ini mencerahkan saya secara pribadi seperti apa vegetasi yang cocok ditanam di tepi ciliwung. Setelah tahap ini, kami melakukan istirahat sholat dzuhur¬† dan makan siang hingga pukul satu.

Lanjut menjemput ilmu di pos selanjutnya, yaitu di pos air yang diisi oleh bang Hendra Aquan. Disini kami menjadi lebih tahu tentang siklus air, air permukaan, dampak sesuatu kepada lingkungan khususnya air, bioindikator sungai, metode pengukuran air, dan pentingnya sungai. Setelah 45 menit  terlewati, kami lanjut masuk ke pos serangga yang diisi oleh bang Gilang. Di pos ini kami mendapat pengetahuan mengenai serangga. Banyak istilah-istilah lain yang didapatkan disini, tapi tak mudah untuk menghafalnya. Tiba saatnya pindah ke pos terakhir oleh bang seken yang akan memaparkan tentang herpetfauna. Materinya mencakup pengetahuan tentang reptile dan amfibi.

Setelah semua pos selesai, kami kembali ke area tenda. Sepertinya panitia sudah menyiapkan permainan untuk kami. Namun, karena peserta belum semuanya selesai, kami dizinkan lebih dulu untuk sholat ashar. Dan pasca sholat ashar, tibalah saatnya main bentengan yang sensasinya cukup berbeda karena digelar ditengah hutan bambu dan udara yang sejuk. Semua tertawa diiringi dengan jatuh bangun karena jatuh di tanah yang licin dan belok.

Istirahat akhirnya datang juga setelah menumpahkan peluh yang penuh tawa dalam medan permainan bentengan. Tiba ‚Äď tiba hal yang unik muncul. Sekelompok anak-anak yang tinggal disitu ngikut nimbrung bareng kita semua. Awalnya sih salah satu mereka bilang ; ‚Äúberani ga nyanyi disini?‚ÄĚ nah entah mengapa mereka malah maunya dance. Kebetulan bang Adi punya lagunya Cherry belle yang¬† judulnya beautiful. Anak-anak itu mulai meliuk-liukkan tubuhnya dengan rapi dan layaknya penari tarian modern professional. Semua orang bersorak dan bergembira, percaya tidak percaya anak itu memang berbakat. Setelah lagu beautiful, ternyata salah satu dari anggota KPL Angsana (kalau tidak salah) punya lagu yang berjudul Mr. Simple dari artis korea selatan. Lebih meriah kali ini. mungkin, kalau dihambarkan akan panjang lagi. semenjak itu mereka saya sebut Artis papan “paling” atas di ¬†“Glonggong Idol‚ÄĚ.

Waktu maghrib tiba, kami sholat maghrib dan setelah beberapa saat dilanjutkan makan (lagi). Setelah semua selesai, kami bersiap ‚Äď siap mencari herpetfauna. Dibagi tiga kelompok dan saya bersama beberapa peserta lain masuk ke kelompok yang dibimbing ka Iting. Selama perburuan, kami mendapatkan kodok jenis buffo, cicak rumahan, dan lainnya. Setelah semua selesai, kami dikumpulkan kembali dan melaporkan herpetfauna yang kami dapatkan. Kelompok lain ada yang mendapatkan kadal ekor panjang, katak dan cicak hutan.

Setelah kami selesai, kami bergegas kembali ke area kemping dan mendengarkan ulfah, dewi, hannan, ucup dan ulfah mempresentasikan trashi news dan young transformer. Setelah semua selesai, kami dipersilahkan istirahat oleh ka Putri di tenda dan mengisi tenaga untuk kegiatan esok hari.

Pukul lima pagi hadir di 22 Januari 2012. Bergegas bersama peserta lain menuju masjid diseberang sungai ciliwung (saya lupa nama masjidnya), dalam kesejukan becampur dingin kami nikmati ibadah di sana. Pasca ibadah, kembalilah kami ke kemah tempat semula. Tak diduga, beberapa peserta dari KPL angsana berkumpul di tendanya dan mengeluarkan suara ‚Äď suara gaduh yang menarik perhatian saya dan saudara mahfut. Kami berdua bergegas menuju tenda KPL angsana dan ikut nimbrung disana.

Sesampainya disana (tentunya tidak naik angkot dan nggak nyasar), sekitar pukul 05.30 pagi kami menemukan wajah-wajah keceriaan dan penuh canda karena sesuatu yang mereka sebut gombal-gombalan. Mahfut berlaku paling mahir sepertinya dari yang lainnya. Segala jenis gombalan dikeluarkan dari mulutnya yang lincah. Mei Lisa (KPL Angsana), jadi korban yang sangat ‚Äď sangat sering di gombalin sepertinya. Terus berlaku seperti itu, dari candaan berbuah tawa lepas yang riang dari kami semua. Tapi, ternyata pukul tujuh pagi saya meninggalkan area kemping karena berbagai keperluan yang sifatnya tidak bisa ditinggalkan. Bersama mahfut yang sejak awal sudah izin untuk tidak meneruskan kegiatan kemping ini. Berat rasanya meniggalkan teman-teman yang luar biasa dan meniggalkan rangkaian acara lain seperti pengamatan burung dan lainnya. Tapi, memang seperti itu keadaanya.

Tetapi, yang saya tahu selama rangkaian acara yang saya ikuti, Kami membaur bersama dalam riuh angin yang mendera dan mencair bersama lenturnya aliran sungai ciliwung membangun harmonisasi persaudaraan yang begitu kental dengan bumbu-bumbu canda dan romantisme yang dilontarkan masing-masing Kami. Semoga dengan adanya kemping di ciliwung ini melahirkan manfaat yang luar biasa dari tujuan awalnya yaitu pelestarian lingkungan khususnya sungai Ciliwung dan umumnya seluruh lingkungan hidup dan Semoga silaturrahim kita semua abadi hingga kapanpun. Tak lupa terima kasih untuk Transformasi Hijau, komunitas ciliwung, KPL Angsana, Young Transformer, SMA N 32, SMK N 24, SMK N 20  dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini.

*terakhir mohon maaf kalo bahasa saya kaku dan nggak asik, amatir (Maklum yak)

From Condet with love

Riyan Hidayat

 

Iklan

Ci Liwung atau Sungai Ciliwung di Id.Wikipedia

Ci Liwung, Ciliwung atau, secara salah kaprah namun lebih populer, Sungai Ciliwung atau Kali Ciliwung, adalah sebuah sungai di Pulau Jawa. Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan.

Panjang aliran utama sungai ini adalah hampir 120 km dengan daerah pengaruhnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi. Wilayah yang dilintasi Ci Liwung adalah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Jakarta.

Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, atau tepatnya di Gunung Gede, Gunung Pangrango dan daerah Puncak. Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai ini mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagai batas alami wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Di daerah Manggarai aliran Ci Liwung banyak dimanipulasi untuk mengendalikan banjir. Jalur aslinya mengalir melalui daerah Cikini, Gondangdia, hingga Gambir, namun setelah Pintu Air Istiqlal jalur lama tidak ditemukan lagi karena dibuat kanal-kanal, seperti di sisi barat Jalan Gunung Sahari dan Kanal Molenvliet di antara Jalan Gajah Mada dan Jalan Veteran.[4] Di Manggarai, dibuat Banjir Kanal Barat yang mengarah ke barat, lalu membelok ke utara melewati Tanah Abang, Tomang, Jembatan Lima, hingga ke Pluit.

Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta. Selain karena daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu di Puncak dan Bogor yang rusak, DAS di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensi penyebab banjir di Jakarta menjadi besar.

Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di Katulampa (Bogor), Depok, Manggarai, serta Pintu Air Istiqlal; serta dengan membagi aliran Ci Liwung melalui kanal-kanal banjir seperti yang diuraikan di atas. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di Gadog, Megamendung, Bogor sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ci_Liwung

Debit Air Bendung Katulampa Berangsur Turun

Nasional / Senin, 2 Januari 2012 12:47 WIB

Metrotvnews.com, Bogor: Curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Bogor, Ahad kemarin, membuat ketinggian air di Bendungan Katulampa sempat naik menjadi siaga empat. Namun sepanjang Senin (2/1) pagi hingga siang ini berangsur turun.

Debit air Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa Bogor hari ini masih terpantau normal dan bertahan dikisaran 40 sentimeter.

Ahad kemarin hujan deras sempat membuat ketinggian air di Bendung Katulampa naik hingga 60 sentimeter. Sehingga status Bendung Katulampa sempat dinaikkan menjadi siaga empat selama satu jam.

Namun karena hujan mereda ketinggian air Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa berangsur turun. Kondisi ini dimanfaatkan petugas dengan melakukan pengerukan dasar sungai, agar saat ketinggian air di atas normal air tidak langsung mengenai perumahan warga di sekitar bendungan.

Sejauh ini Jakarta masih relatif aman karena air kiriman dari Puncak akan sampai ke Jakarta setelah 11 jam hingga 12 jam. Ketinggian air di Bendung Katulampa sepanjang tahun 2011 sempat belasan kali naik hingga di angka 150 sentimeter.(RIZ)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/01/02/142564/Debit-Air-Bendung-Katulampa-Berangsur-Turun/6