Serinting Bahasa Arab – Edisi Reptil

 

1. Ular Laut (Laticauda Colubrina)

Image Source : http://1.bp.blogspot.com/-L3N0GqSX-NU/TiY5vOrsJnI/AAAAAAAAAeM/cfeVNDjPqoU/s640/ular+laut+2.jpg

Ular ini berwarna belang putih hitam dan ada pantulan warna biru – ungu jika terkena pantulan

 sinar matahari.
Laticauda colubrina merupakan ular laut yang bersifat ampibi. bertaring proteroglypha atau taring berada di depan, berkepala bulat telur panjang maksimal hingga 2 meter. Ular jenis ini masih mampu bergerak di daratan dengan ciri sisik bawah tubuhnya masih ada. Sedangkan ular laut jenis lain tidak memiliki sisik bagian bawah karena murni hidup di air.

Ciri utama ular laut adalah ekornya yang membentuk dayung dan bersisik. untuk membedakan ular laut dengan belut laut adalah dengan mengamati tubuhnya. Ular bersisik. salah satu logika nyata ular tidak takut dengan garam adalah ular laut yang hidup 100% berinteraksi dengan air laut yang mengandung garam.

(http://siouxindonesia.multiply.com/journal/item/13?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem)

2. Buaya Irian (Crocodylus novaeguineae)

Image Source : http://lintangluku.com/wp-content/uploads/2011/09/Buaya-Irian2.jpg

Buaya ini Panjang tubuhnya sampai sekitar 3,35 m pada yang jantan, sedangkan yang betina hingga sekitar 2,65 m. Buaya ini memiliki sisik-sisik yang relatif lebih besar daripada buaya lainnya apabila disandingkan. Di bagian belakang kepala terdapat 4–7 sisik lebar (post-occipital scutes) yang tersusun berderet melintang, terpisah agak jauh di kanan-kiri garis tengah tengkuk. Sisik-sisik besar di punggungnya (dorsal scutes) tersusun dalam 8–11 lajur dan 11–18 deret dari depan ke belakang tubuh. Sisik-sisik perutnya dalam 23–28 deret (rata-rata 25 deret) dari depan ke belakang.

Reptil yang umumnya nokturnal ini menghuni wilayah pedalaman Papua yang berair tawar, di sungai-sungai, rawa dan danau. Meskipun diketahui toleran terhadap air asin, buaya ini jarang-jarang dijumpai di perairan payau, dan tak pernah ditemui di tempat di mana terdapat buaya muara.

Buaya Irian bertelur di awal musim kemarau. Rata-rata buaya betina mengeluarkan 35 butir telur, dengan jumlah maksimal sekitar 56 butir. Berat telur rata-rata 73 gram, sementara anak buaya yang baru menetas berukuran antara 26–32 cm panjangnya. Buaya betina menunggui sarang dan anak-anaknya hingga dapat mencari makanannya sendiri.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_Irian)

3. Komodo (Varanus komodoensis)

Image Source : http://d30mmglg94tqnw.cloudfront.net/wp-content/plugins/magic-gallery/uploads/12/komodo%20(1).jpg

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.

Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.
Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Komodo)

4. Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

Image Source : http://www.thegardensofeden.org/img/s3/v8/p807878532-3.jpg

Kura kura hutan Sulawesi atau kura kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) yang dalam bahasa latin disebut Leucocephalon yuwonoi adalah salah satu jenis kura kura yang termasuk langka. Kura kura hutan sulawesi (kura kura paruh betet) termasuk dalam salah satu dari 7 jenis reptil paling langka yang terdapat di Indonesia, bahkan kura kura ini juga termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles, 2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition.

Kura kura hutan sulawesi yang dipertelakan pada tahun 1995 ini sering disebut juga sebagai kura kura paruh betet dikarenakan bentuk mulutnya yang meruncing dan mirip dengan paruh burung betet. Dalam bahasa Inggris kura kura hutan Sulawesi yang endemik pulau Sulawesi ini disebut sebagai Sulawesi Forest Turtle. Sedangkan resminya kura kura ini mempunyai nama latin Leucocephalon yuwonoi yang bersinonim dengan Geoemyda yuwonoi dan Heosemys yuwonoi. Sebelumnya kura kura hutan Sulawesi digolongkan dalam genus Heosemys, tapi sejak tahun 2000 kura kura ini dimasukkan dalam genus tunggal Leucocephalon. Kata ‘yuwonoi’ dalam nama ilmiahnya merujuk pada Frank Yuwono yang kali pertama memperoleh spesimen pertama kura kura hutan sulawesi ini di sebuah pasar di Gorontalo, Sulawesi.

(http://www.satwaunik.com/informasi-umum/kura-kura-berhidung-betet/)

5. Biawak Air (Varanus salvator)

Image Source : http://2.bp.blogspot.com/-Ez686ZCOMY4/UERBEiKzG7I/AAAAAAAADto/QE0-x7WQWkw/s640/biawak.jpg

Varanus Salvator adalah nama lain dari Biawak Air Tawar, orang jawa bilang Nyambek, lain lagi kalau orang bule, mereka menyebutnya Water Monitor, mungkin karena biawak ini hidupnya lebih banyak dihabiskan di dalam air dari pada di darat.

Sebut saja Salvator, reptil yang masih keluarga besar Kadal Monitor ini memiliki tubuh yang berotot dan ekor yang panjang, berat salvator dewasa bisa mencapai 25kg (lumayan kalo di buat sate bisa buat sekampung, hehehehe), panjang salvator dari moncong hingga ujung ekor bisa mencapai 3 meter lebih, tapi rata-rata yang bisa kita temui hanya berukuran setengahnya dari itu.

Salvator dapat ditemukan hampir di penjuru Asia, di kota ataupun di pedesaan. Selama di daerah tersebut masih terdapat aliran air seperti sungai-sungai kecil atau rawa-rawa, maka bukan tidak mungkin di sana menjadi habitat Salvator.
(http://gatelitel.blogspot.com/2011/02/varanus-salvator-biawak-air-tawar.html)

Produksi11/12

#Profile Perpustakaan Ciliwung Condet

Perpustakaan Ciliwung Condet adalah perpustakaan yang dibentuk oleh organisasi kelingkungan non profit yang terletak di daerah condet balekambang Jakarta Timur. Perpustakaan ini terletak di Jl. Munggang No.6 Condet Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Perpustakaan ini dibentuk dengan tujuan menyediakan sarana membaca bagi masyarakat Condet Balekambang khususnya, dan masyakarat luas pada umumnya. Karena dalam berbagai keterangan, indonesia sebenarnya memiliki minat baca yang cukup tinggi namun tidak memiliki sokongan mengenai informasi dan sarana yang mendukung untuk membaca.

Sejauh ini Perpustakaan ciliwung condet telah mengumpulkan dan melakukan pendataan terhadap buku – buku yang sudah terkumpul. hasilnya saat ini terdata lebih dari 400 judul dengan perincian lebih dari 450 eksemplar. koleksi – koleksi tersebut antara lain berjudul Birds of Baluran, bermacam judul cerita – cerita anak, dan buku pengetahuan lingkungan lainnya.

untuk tahap selanjutnya, perpustakaan ciliwung condet masih mencoba memenuhi kekurangan keperluan untuk menunjang jalannya perpustakaan ini. antara lain, penambahan koleksi buku, pengadaan sarana dan prasarana seperti karpet, rak, meja baca dll, serta mengorganisir agar perpustakaan ini beroperasi dengan semestinya. dalam hal tersebut perpustakaan ciliwung condet membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin membantu dan mensupport apa-apa yang dibutuhkan oleh perpustakaan ciliwung condet.

#PerpustakaanCiliwung Condet

Contact Person
FB : touchz_loex@yahoo.co.id (Riyan Hidayat)
Twitter : @RiyanHide
email : riyan.hidayat.rh@gmail.com
HP : 085781074386

Kemping di Ciliwung, 21-22 Januari 2012; Sebuah Perjalanan Memaknai kebersamaan dengan Alam

Sebelumnya, Mohon maaf  jika pemilihan judul mungkin agak lebay. Tapi begitulah adanya yang mungkin sepadan dengan apa yang terjadi tanggal 21-22 Januari 2012 di desa Glonggong, Bojong Gede. Pada tanggal tersebut, Transformasi Hijau bekerja sama dengan komunitas ciliwung telah melaksanakan sebuah perhelatan yang begitu besar yang bisa dilihat dari segi nilai. Acara ini tidak wah secara material, tidak ada dangdutan atau mengundang artis ibu kota, tidak menginap di vila atau berhubungan dengan sesuatu yang mewah. Hal ini lebih kepada kemewahan sebuah pemikiran atau pembelajaran tentang berbagai hal tentang alam dan ciliwung. Beruntungnya, saya adalah salah satu dari mereka yang meramaikan perhelatan ini sehingga bisa menikmati kemewahan itu. Kemping di ciliwung diikuti oleh berbagai elemen komunitas, pelajar dan mahasiswa. Terdiri dari Komunitas ciliwung, KPL Angsana IPB, Teens go green, GC UI dan lainnya.

Setiap peserta yang ikut perhelatan ini, pasti memiliki cerita masing-masing dalam mengikuti acara ini mulai dari berangkat hingga usainya acara, tak terkecuali saya. Berangkat dari rumah pada pukul delapan pagi dengan niat sampai di Bojong pukul Sembilan pagi. Naik ular besi dari stasiun pasar minggu menuju peron bojong gede dilakoni dengan suasana yang biasa saja. Niatnya sih setelah naik kereta mau langsung jalan kaki aja sampai ke TKP karena inget pesan bang badak. Berkata bang badak : “jalan kaki aja! Cuma 600 meter kok. 10 menit dari stasiun.” Beruntunglah saya Tanya narasumber local yang membuat saya berubah pikiran. Berkata tukang belimbing : “Jauh dek, langsung naik aja 07 atau ojek.” Setelah mengucapkan terima kasih, bergegaslah saya menuju TKP Glonggong.

Selanjutnya, yang luar biasa adalah ketika naik 07 jurusan bogor kota. Supirnya sangat  luar biasa hingga saya keterusan sampai Cilebut atau malah hampir Bogor. Hal ini membuat saya kembali memutar arah dan ngongkos lagi. Turun di jalan haji wahid, berjalan kaki melewati rel kereta, dan sampailah saya di tempat yang sudah membuat saya penasaran ini. Rimbunan pohon bambu dan kesejukan menyambut dengan lembut setiap derap kaki yang telah lemas karena nyasar ini.

Waktu menjelang siang, mentari sedang berdansa diujung langit, kami diajak untuk mendirikan tenda dan menyambangi area yang akan kami gunakan untuk mendirikan tenda dan berkumpul. Pasca ke area seluruh peserta dikumpulkan lagi si saung dan dibagi kelompok.  Saya tergabung dalam kelompok satu yang dibimbing oleh saudari ulfah wulandari. Sebagaimana kelompok lain, kelompok ini juga akan menerima materi-materi awal yang disajikan oleh berbagai ahli di bidangnya. Mulai dari tentang burung, vegetasi, air, serangga, hingga herpetfauna.

Kami menjalani tahap mulai dari pos burung di bertempat disisi sungai dekat jembatan yang materiya mencakup tentang burung yang diisi bang Iting dan ka Agnes. Otak kami dipacu dengan berbagai pembahasan mulai dari deskripsi burung, ciri – ciri burung, hal penting dalam pengamatan burung hingga pembuatan sketsa burung.  Lanjut ke tahap selanjutnya, yaitu pos vegetasi yang bertempat dibawah rimbunan bambu yang diisi oleh ka febri. Disini kami mengenal berbagai vegetasi lokal mulai dari jenis bamboo tali, lempuyang, dan lainnya. Pos ini mencerahkan saya secara pribadi seperti apa vegetasi yang cocok ditanam di tepi ciliwung. Setelah tahap ini, kami melakukan istirahat sholat dzuhur  dan makan siang hingga pukul satu.

Lanjut menjemput ilmu di pos selanjutnya, yaitu di pos air yang diisi oleh bang Hendra Aquan. Disini kami menjadi lebih tahu tentang siklus air, air permukaan, dampak sesuatu kepada lingkungan khususnya air, bioindikator sungai, metode pengukuran air, dan pentingnya sungai. Setelah 45 menit  terlewati, kami lanjut masuk ke pos serangga yang diisi oleh bang Gilang. Di pos ini kami mendapat pengetahuan mengenai serangga. Banyak istilah-istilah lain yang didapatkan disini, tapi tak mudah untuk menghafalnya. Tiba saatnya pindah ke pos terakhir oleh bang seken yang akan memaparkan tentang herpetfauna. Materinya mencakup pengetahuan tentang reptile dan amfibi.

Setelah semua pos selesai, kami kembali ke area tenda. Sepertinya panitia sudah menyiapkan permainan untuk kami. Namun, karena peserta belum semuanya selesai, kami dizinkan lebih dulu untuk sholat ashar. Dan pasca sholat ashar, tibalah saatnya main bentengan yang sensasinya cukup berbeda karena digelar ditengah hutan bambu dan udara yang sejuk. Semua tertawa diiringi dengan jatuh bangun karena jatuh di tanah yang licin dan belok.

Istirahat akhirnya datang juga setelah menumpahkan peluh yang penuh tawa dalam medan permainan bentengan. Tiba – tiba hal yang unik muncul. Sekelompok anak-anak yang tinggal disitu ngikut nimbrung bareng kita semua. Awalnya sih salah satu mereka bilang ; “berani ga nyanyi disini?” nah entah mengapa mereka malah maunya dance. Kebetulan bang Adi punya lagunya Cherry belle yang  judulnya beautiful. Anak-anak itu mulai meliuk-liukkan tubuhnya dengan rapi dan layaknya penari tarian modern professional. Semua orang bersorak dan bergembira, percaya tidak percaya anak itu memang berbakat. Setelah lagu beautiful, ternyata salah satu dari anggota KPL Angsana (kalau tidak salah) punya lagu yang berjudul Mr. Simple dari artis korea selatan. Lebih meriah kali ini. mungkin, kalau dihambarkan akan panjang lagi. semenjak itu mereka saya sebut Artis papan “paling” atas di  “Glonggong Idol”.

Waktu maghrib tiba, kami sholat maghrib dan setelah beberapa saat dilanjutkan makan (lagi). Setelah semua selesai, kami bersiap – siap mencari herpetfauna. Dibagi tiga kelompok dan saya bersama beberapa peserta lain masuk ke kelompok yang dibimbing ka Iting. Selama perburuan, kami mendapatkan kodok jenis buffo, cicak rumahan, dan lainnya. Setelah semua selesai, kami dikumpulkan kembali dan melaporkan herpetfauna yang kami dapatkan. Kelompok lain ada yang mendapatkan kadal ekor panjang, katak dan cicak hutan.

Setelah kami selesai, kami bergegas kembali ke area kemping dan mendengarkan ulfah, dewi, hannan, ucup dan ulfah mempresentasikan trashi news dan young transformer. Setelah semua selesai, kami dipersilahkan istirahat oleh ka Putri di tenda dan mengisi tenaga untuk kegiatan esok hari.

Pukul lima pagi hadir di 22 Januari 2012. Bergegas bersama peserta lain menuju masjid diseberang sungai ciliwung (saya lupa nama masjidnya), dalam kesejukan becampur dingin kami nikmati ibadah di sana. Pasca ibadah, kembalilah kami ke kemah tempat semula. Tak diduga, beberapa peserta dari KPL angsana berkumpul di tendanya dan mengeluarkan suara – suara gaduh yang menarik perhatian saya dan saudara mahfut. Kami berdua bergegas menuju tenda KPL angsana dan ikut nimbrung disana.

Sesampainya disana (tentunya tidak naik angkot dan nggak nyasar), sekitar pukul 05.30 pagi kami menemukan wajah-wajah keceriaan dan penuh canda karena sesuatu yang mereka sebut gombal-gombalan. Mahfut berlaku paling mahir sepertinya dari yang lainnya. Segala jenis gombalan dikeluarkan dari mulutnya yang lincah. Mei Lisa (KPL Angsana), jadi korban yang sangat – sangat sering di gombalin sepertinya. Terus berlaku seperti itu, dari candaan berbuah tawa lepas yang riang dari kami semua. Tapi, ternyata pukul tujuh pagi saya meninggalkan area kemping karena berbagai keperluan yang sifatnya tidak bisa ditinggalkan. Bersama mahfut yang sejak awal sudah izin untuk tidak meneruskan kegiatan kemping ini. Berat rasanya meniggalkan teman-teman yang luar biasa dan meniggalkan rangkaian acara lain seperti pengamatan burung dan lainnya. Tapi, memang seperti itu keadaanya.

Tetapi, yang saya tahu selama rangkaian acara yang saya ikuti, Kami membaur bersama dalam riuh angin yang mendera dan mencair bersama lenturnya aliran sungai ciliwung membangun harmonisasi persaudaraan yang begitu kental dengan bumbu-bumbu canda dan romantisme yang dilontarkan masing-masing Kami. Semoga dengan adanya kemping di ciliwung ini melahirkan manfaat yang luar biasa dari tujuan awalnya yaitu pelestarian lingkungan khususnya sungai Ciliwung dan umumnya seluruh lingkungan hidup dan Semoga silaturrahim kita semua abadi hingga kapanpun. Tak lupa terima kasih untuk Transformasi Hijau, komunitas ciliwung, KPL Angsana, Young Transformer, SMA N 32, SMK N 24, SMK N 20  dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini.

*terakhir mohon maaf kalo bahasa saya kaku dan nggak asik, amatir (Maklum yak)

From Condet with love

Riyan Hidayat

 

Eksotika Setu Babakan; Harta Karun di Sudut Jakarta

Jakarta atau bisa saya sebut wilayah pribumi orang betawi, memiliki khazanah dan budaya yag luar biasa. Bagai emas yang bertebaran dimana-mana, bagai bintang yang kasat mata yang terlihat di malam cerah, atau bahkan bagai lautan dirham didepan rumah. Kebudayaan betawi kaya akan nilai dan ciri khas. Namun, lambat laun khazanah yang penuh umpama ini mulai tergerus arus globalisasi yang mengkampanyekan kebudayaan yang bersifat homogen. Semua manusia tak terkecuali warga betawi mengalami pengaruh fanatisme yang tinggi pada budaya barat yang katanye lebih ngetren, atau lebih gaol mungkin. Tapi, ternyata dibalik kegelapan masih ada setitik cahaya yang tampak, ia adalah kawasan cagar budaya Setu Babakan. Kawasan cagar budaya yang mempertontonkan berbagai khazanah betawi dalam geraknya di “kekakuan gerak” budaya betawi saat ini. Setu Babakan terletak di daerah kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.


Kawasan ini diresmikan sebagai kawasan perkampungan sekaligus cagar budaya betawi pada tahun 2004 oleh Gubernur saat itu, Bapak Sutiyoso. Sebelum peresmian ini, sebetulnya sudah ada persiapan-persiapan terlebih dulu untuk memperkuat wilayah ini, sampai hingga dirasa cukup dan dapat diresmikan. Perkampungan Setu Babakan pernah menjadi salah satu tempat yang dipilih oleh  Pacifik Asia Travel Association (PATA) sebagai tempat kunjungan wisata bagi peserta konferensi PATA di Jakarta pada Oktober 2002. Kawasan ini memiliki luas sekitar 165 hektar dan terdapat diapit  dua danau yang diduduki oleh 3000 KK atau lebih yang sebagian besar ‘orang’  betawi asli yang secara turun temurun tinggal disitu dan sebagian kecil para pendatang yang sudah menetap selama puluhan tahun.

 

Cagar budaya ini menyuguhkan berbagai hal – hal menarik dan unik.. Mulai dari Lingkungannya, Alamnya, Suguhan budayanya, dan hal lainnya yang mungkin dirindukan oleh pencinta dunia betawi. Berikut beberapa keunikan;

  • Kawasan Cagar budaya ini memiliki bentang alam yang asri dan masih memiliki banyak pohon dan rindang. Jadi, cadangan oksigen tidak akan terasa kurang disini dan terasa adeeeemmm bangeet. Disana juga terdapat dua situ atau danau yang bernama situ mangga bolong dan situ babakan yang sangat indah dipandang.
  • Kawasan ini juga menyujuhkan pertunjukan-pertunjukan seni budaya betawi sepert; marawis, hadroh, tarian-tarian betawi, gambang kromong, lenong dan seni budaya betawi lainnya.
  • Kawasan ini menyediakan jajanan-jajanan khas betawi seperti kerak telor, soto betawi, bir pletok dan makanan khas lainnya.

Mungkin, itu sekilas dari sekian banyak informasi tentang harta karun di sudut Jakarta. kalau mau tahu lebih lanjut, kunjungi tempatnya.

Cara menuju lokasi ;

  • Dari Terminal Pasar Minggu, naik Kopaja No. 616 jurusan Blok M menuju Cimpedak, turun di depan pintu gerbang perkampungan Setu Babakan.
  • Menggunakan taksi dari Terminal Depok perkampungan Setu Babakan.
  • Dari Terminal Depok naik Metromini 616 jurusan Blok M-Pasar Minggu-Cimpedak atau naik angkutan umum bernomor 128, kemudian turun di depan pintu gerbang perkampungan Setu Babakan.

Sekian

about Setu Babakan:

 

 

*berbagai sumber

Malu Sebagai Tuan Rumah; Part.2

Sistem drainase yang buruk juga juga mendukung usaha gedung tinggi yang sengaja menghisap habis segala sumber daya air tanah jakarta untuk meluluh lantakkan bumi Jakarta ini. Seharusnya menurut beberapa sumber, menurut  Guru Besar di Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor Hidayat Pawitan dalam diskusi di IPB, Bogor, mengatakan  bahwa wilayah Jakarta yang luasnya hampir 650.000 hektar membutuhkan sekitar 6500 waduk yang tentu saja alokasiannya masing -masing 1 waduk untuk 100 hektar.  Banjir Kanal Barat dan Timur terlihat hari ini justru hanya menjadi Sarang sampah dan tetap saja seperti itu tak dapat mengurangi atau bahkan memberhentikan potensi banjir yang ada.

Masalah lingkungan yang selanjutnya adalah polusi. Polusi merupakan kata yang tak asing bagi kita semua penduduk Jakarta yang masih bisa menghirup oksigen dan menggunakan sumber daya udara lainnya. Tapi, apa yang terjadi hari ini? mulai dari asap rokok, tabunan, asap kendaraan bertenaga besi, hingga pembuangan dari ‘Usus’ pabrik  secara tidak langsung menjadi tersangka bagi hal ini. Mulai dari asap rokok, berapa ribu atau lebih mengambil korek dan menghisap rokok setiap harinya?. Lalu, berapa banyak kendaraan yang lewat atau mengelilingi Jakarta setiap harinya? setiap hari jutaan kendaraan memasuki Jakarta. Berapa banyak senyawa hasil pembakaran kendaraan bermotor?. padahal ini semua secara langsung menjadi faktor keburukan  kesehatan akibat polusi , dan sebagainya hingga beriringan dengan masalah lain.

ini menjadi sangat buruk manakala didukung oleh faktor lainnya, misal karena terlalu banyak kendaraan bermototr menyebabkan bahan bakar yang digunakan setiap harinya semakin terakumulasi dan berjumlah sangat banyak. apalagi ditambah dengan kemacetan yang bisa membuat bahan bakar yang digunakan akan semakin banyak dan banyak dan akan menghasilkan pembakaran bahan bakar fosil yang lebih banyak lagi . sungguh Ironis.

sekian

 

Coming soon Part3

Antara Musibah dan Introspeksi

Pagi ini seperti biasa layaknya insan yang lain saya melangkahkan kaki untuk rutinitas yang  fardhu ‘ain yaitu sarapan pagi. Kali ini saya menuju sebuah warung kopi dan memesan semangkuk bubur ayam yang masih hangat. Diputuskanlah bubur ayam itu dibungkus saja dan dimakan dirumah dan segera bergegas pulang. Dengan mangkuk yang sudah siap dan bergegas menuju ke depan televisi.

Mendengar tapi tuli

Manis Tapi Pahit

Bisa Tapi tak Mampu

Itulah tiga dari empat ungkapan yang terungkap di spanduk yang terpampang manakala ditekan tombol on televisi. Ungkapan itu Tampak seorang reporter sedang mewawancarai seseorang yang sedikit beruban namun tak terlalu tua. Memakai kacamata dan berbicara lugas tanpa menyensor nama-nama dengan inisial atau tidak mengatakannya. Beliau adalah ketua rt. 01 di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan yang mewakili perasaan kecewa terhadap para penguasa yang lebih tinggi. Daerah yang diwakilinya sudah lama terendam banjir dari kali krukut dengan anomali yanng berbeda-beda. ini tidak terjadi semata-mata hanya dua hari atau satu minggu. Ini terjadi sekitar dari sepuluh bulan yang lalu, tepatnya sejak bulan Maret.

Warga Pondok Labu dan sekitarnya sudah mengadukan ini semua kepada pemerintah terkait. Bahkan, ada MOU yang dipegang oleh mereka. tetapi, sampai sekarang belum ada tanggapan apapun. MOU itu berisi bahwa banjir akan segera diatasi. Memang, pemerintah sudah mengoperasikan alat berat yang bertugas mengatasi pendangkalan kali dan melebarkannya. Namun, warga merasa itu tak efektif  karena per-hari hanya mengeruk hanya sekitar kedalaman dua meter. Banjir itu membuat mereka banyak mengalami kerugian, mulai dari mengalami berbagai penyakit hingga beban psikologis yang sangat tinggi.

Hal Ini harus segera diselesaikan agar tidak muncul masalah-masalah selanjutnya. Pemerintah harus segera menanggapi tuntutan ini sebelum semua terlambat. Dalam hal lain, Masyakarakat juga perlu belajar kenapa hal ini bisa terjadi?. Jadi,  mari bersama-sama kita menginterospeksi dan memperbaiki diri. Semoga seluruh warga yang terkena musibah mendapat kesejahteraan yang lebih baik setelah ini.

Sekian

Surat untuk Calon

Pagi ini, terpikir sebuah peristiwa yang akan terjadi dan entah hasilnya baik atau buruk pada Oktober 2012. Setiap insan di Indonesia yang memenuhi syarat sesuai undang-undang akan mencalonkan diri (jarang yang dicalonkan) sebagai  gubernur DKI Jakarta dan menunjukkan diri sebagai wujud konkret dari resolusi dan restorasi tentang kerusakan, keburukan, dan kebobrokan Ibukota Republik Indonesia, yakni DKI Jakarta.

 

Hari ini, sudah tanggal 12 Januari 2012. Sekitar 6 bulan ke depan baru akan ada proses pemilihan untuk pergantian dari pemimpin lama yang terkesan eksklusif, , tukang tanda tangan peresmian mall atau yang sering menghabiskan air tanah, menghadiri hajatan – hajatan besar yang menampakkan mukanya di kamera. Itu semua mungkin sebagian kecil perilaku yang ada dan itu tidak salah. Namun, tidak tepat dikala hancurnya jantung justru merawat kulit epidermis.

 

Demi alasan yang telah disebutkan, dibuatlah surat tertanggal 12 Januari 2012 yang memiliki harapan, optimisme, dan keyakinan akan adanya rekonstruksi kondisi mengenai “rumah asli orang betawi”. Berikut bunyi suratnya ;

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dear Bapak/Ibu Calon

Dengan ridho Allah SWT, tertulislah surat terbuka ini dengan tujuan yang baik dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat luas dan objektifitas.

 Sepertinya sudah banyak yang mengatakan ini dan itu, maonya pemimpin “kaya gini atau kaya gitu”. Sebenernya semuanya tidak “muluk-muluk” tinggal bagaimana anda sebagai calon pemimpin kami bisa mengimplementasikan segala hal yang “orang baik” mau dan itu bersifat positif. Inilah beberapa poin yang akan disampaikan;

  1. Takut dengan sang Maha Pencipta yang sudah menakdirkan anda menjadi manusia seutuhnya yang memiliki iman, hati dan otak yang HARUS digunakan untuk hal yang bermanfaat.
  2. Memimpinlah sebagai manusia, karena binatang tidak mengkolaborasikan hati dengan otak dalam perbuatannya. Pemimpin bukan sebagai pebisnis. Karena pemimpin melihat ke semua arah tidak hanya ke satu arah
  3. Meskipun  bukan berasal dari Jakarta, perasaan memiliki Jakarta sangat diperlukan saat ini. karena yang terlihat saat ini adalah pemerkosaan Jakarta secara besar – besaran yang melumpuhkan beberapa aspek dan menimbulkan masalah.
  4. Berjalanlah wahai para calon ke semua wilayah Jakarta beserta “gang-gang” buntu didalamnya maka akan para calon temukan berbagai permasalahan yang menjadi permasalahan kami anak Jakarta.
  5. Jika menjadi, Masalah urbanisasi ini perlu dipikirkan baik – baik dan solusinya harus mengkonsolidasikan ke seluruh pemimpin daerah lain agar ada kampanye pemerataan alokasi dana agar bisa mencari lapangan pekerjaan sendiri dan hal lainnya.
  6. Jika Menjadi, budaya harus prioritas yang berdampingan dengan pemulihan stabilitas Jakarta dan menjadikan seluruh budaya dan khazanah Jakarta termasuk cagar budaya yang telah di non aktifkan dapat kembali menjadi kebangaan bagi semua warga Jakarta.
  7. Semua wilayah Jakarta memiliki nilai historis yang sangat tinggi . Jangan Lagi ada mall – mall yang merongrong, gedung tingkat “dua ratus”, proyek tidak jelas dan segala macam hal yang menghilangkan bilai sejarah Jakarta. Hidupkan kembali!
  8. Semua hal itu tidak mustahil dilakukan oleh siapapun yang tulus melakukannya.
  9. Jika jadi, Harmonisasi Jakarta di semua hal unik sekaligus baik yang belum disebutkan diatas di wilayah Jakarta harus terjadi dalam kepemimpinan anda.

 

Demikian yang telah disampaikan, semoga dapat bermanfaat dan mohon maaf atas segala kata-kata yang menyinggung atau terkesan salah. Terima Kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Sekian. . .