Yang Sirna dan Tak Akan Hilang

Sebuah keniscayaan di dunia, bahwa yang bernyawa pasti akan tiada, yang berdaya tentu ada lemahnya dan yang punya akan ada hilangnya. Setitik peristiwa yang setiap manusia pasti akan mengalaminya.

Yang bernyawa tentu ada tugasnya, lahir ke dunia lalu berjalan-jalan di dunia, memandang apa saja. Tapi apakah cukup hanya memandang saja?. Yang bernyawa perlu berkarya, berbuat apa saja demi umat manusia. Hingga tiba waktu senja, baru sesal hidup merana. Karena yang bernyawa sedang menuju tiada. Apa yang dibawa hingga pantas bertanya pada sang khalik, “surga saya letaknya dimana?”.

Yang berdaya harus jadi cahaya. Tuntun selainnya agar sama setara. Yang tiada keahliannya, jadi gesit kerjanya. Yang tiada berdaya jadi besar labanya. Hingga sesal datang menyapa, “mengapa tiada tenang dan sahabat menyapa?”.

Yang berpunya boleh malu adanya, bila tetangga tiada berdaya. Boleh malu bila tiada tahu lingkungannya. Rumah kuat betonnya, gubuk kecil melambai disebelahnya. Lalu adakah sebuah tanya, “buat apa menjadi kaya?”.

Kadang-kadang perlu ada sadarnya, tentang yang hilang dan tak akan sirna. Dialah nyawa-nyawa penuh jasa tanpa tanda. Dialah yang berdaya sekaligus pemberdaya. Dialah yang berpunya, kemudian membagi cintanya. Adakah kita merenungi tentang yang tiada dan tak akan pernah sirna?

Jakarta, 29 Desember 2015

Iklan

Diterbitkan oleh

Riyan Hidayat

Alumni Fakultas IlmuPengetahuan Budaya Universitas Indonesia | Peminat Kronik dan Peristiwa yang telah Lalu | Belajar Kosa Kata Bahasa Arab lewat "Serinting Bahasa Arab"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s