Serinting Bahasa Arab – Edisi Reptil

 

1. Ular Laut (Laticauda Colubrina)

Image Source : http://1.bp.blogspot.com/-L3N0GqSX-NU/TiY5vOrsJnI/AAAAAAAAAeM/cfeVNDjPqoU/s640/ular+laut+2.jpg

Ular ini berwarna belang putih hitam dan ada pantulan warna biru – ungu jika terkena pantulan

 sinar matahari.
Laticauda colubrina merupakan ular laut yang bersifat ampibi. bertaring proteroglypha atau taring berada di depan, berkepala bulat telur panjang maksimal hingga 2 meter. Ular jenis ini masih mampu bergerak di daratan dengan ciri sisik bawah tubuhnya masih ada. Sedangkan ular laut jenis lain tidak memiliki sisik bagian bawah karena murni hidup di air.

Ciri utama ular laut adalah ekornya yang membentuk dayung dan bersisik. untuk membedakan ular laut dengan belut laut adalah dengan mengamati tubuhnya. Ular bersisik. salah satu logika nyata ular tidak takut dengan garam adalah ular laut yang hidup 100% berinteraksi dengan air laut yang mengandung garam.

(http://siouxindonesia.multiply.com/journal/item/13?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem)

2. Buaya Irian (Crocodylus novaeguineae)

Image Source : http://lintangluku.com/wp-content/uploads/2011/09/Buaya-Irian2.jpg

Buaya ini Panjang tubuhnya sampai sekitar 3,35 m pada yang jantan, sedangkan yang betina hingga sekitar 2,65 m. Buaya ini memiliki sisik-sisik yang relatif lebih besar daripada buaya lainnya apabila disandingkan. Di bagian belakang kepala terdapat 4–7 sisik lebar (post-occipital scutes) yang tersusun berderet melintang, terpisah agak jauh di kanan-kiri garis tengah tengkuk. Sisik-sisik besar di punggungnya (dorsal scutes) tersusun dalam 8–11 lajur dan 11–18 deret dari depan ke belakang tubuh. Sisik-sisik perutnya dalam 23–28 deret (rata-rata 25 deret) dari depan ke belakang.

Reptil yang umumnya nokturnal ini menghuni wilayah pedalaman Papua yang berair tawar, di sungai-sungai, rawa dan danau. Meskipun diketahui toleran terhadap air asin, buaya ini jarang-jarang dijumpai di perairan payau, dan tak pernah ditemui di tempat di mana terdapat buaya muara.

Buaya Irian bertelur di awal musim kemarau. Rata-rata buaya betina mengeluarkan 35 butir telur, dengan jumlah maksimal sekitar 56 butir. Berat telur rata-rata 73 gram, sementara anak buaya yang baru menetas berukuran antara 26–32 cm panjangnya. Buaya betina menunggui sarang dan anak-anaknya hingga dapat mencari makanannya sendiri.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_Irian)

3. Komodo (Varanus komodoensis)

Image Source : http://d30mmglg94tqnw.cloudfront.net/wp-content/plugins/magic-gallery/uploads/12/komodo%20(1).jpg

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.

Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.
Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Komodo)

4. Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi)

Image Source : http://www.thegardensofeden.org/img/s3/v8/p807878532-3.jpg

Kura kura hutan Sulawesi atau kura kura paruh betet (Sulawesi Forest Turtle) yang dalam bahasa latin disebut Leucocephalon yuwonoi adalah salah satu jenis kura kura yang termasuk langka. Kura kura hutan sulawesi (kura kura paruh betet) termasuk dalam salah satu dari 7 jenis reptil paling langka yang terdapat di Indonesia, bahkan kura kura ini juga termasuk dalam daftar The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles, 2011 yang dikeluarkan oleh Turtle Conservation Coalition.

Kura kura hutan sulawesi yang dipertelakan pada tahun 1995 ini sering disebut juga sebagai kura kura paruh betet dikarenakan bentuk mulutnya yang meruncing dan mirip dengan paruh burung betet. Dalam bahasa Inggris kura kura hutan Sulawesi yang endemik pulau Sulawesi ini disebut sebagai Sulawesi Forest Turtle. Sedangkan resminya kura kura ini mempunyai nama latin Leucocephalon yuwonoi yang bersinonim dengan Geoemyda yuwonoi dan Heosemys yuwonoi. Sebelumnya kura kura hutan Sulawesi digolongkan dalam genus Heosemys, tapi sejak tahun 2000 kura kura ini dimasukkan dalam genus tunggal Leucocephalon. Kata ‘yuwonoi’ dalam nama ilmiahnya merujuk pada Frank Yuwono yang kali pertama memperoleh spesimen pertama kura kura hutan sulawesi ini di sebuah pasar di Gorontalo, Sulawesi.

(http://www.satwaunik.com/informasi-umum/kura-kura-berhidung-betet/)

5. Biawak Air (Varanus salvator)

Image Source : http://2.bp.blogspot.com/-Ez686ZCOMY4/UERBEiKzG7I/AAAAAAAADto/QE0-x7WQWkw/s640/biawak.jpg

Varanus Salvator adalah nama lain dari Biawak Air Tawar, orang jawa bilang Nyambek, lain lagi kalau orang bule, mereka menyebutnya Water Monitor, mungkin karena biawak ini hidupnya lebih banyak dihabiskan di dalam air dari pada di darat.

Sebut saja Salvator, reptil yang masih keluarga besar Kadal Monitor ini memiliki tubuh yang berotot dan ekor yang panjang, berat salvator dewasa bisa mencapai 25kg (lumayan kalo di buat sate bisa buat sekampung, hehehehe), panjang salvator dari moncong hingga ujung ekor bisa mencapai 3 meter lebih, tapi rata-rata yang bisa kita temui hanya berukuran setengahnya dari itu.

Salvator dapat ditemukan hampir di penjuru Asia, di kota ataupun di pedesaan. Selama di daerah tersebut masih terdapat aliran air seperti sungai-sungai kecil atau rawa-rawa, maka bukan tidak mungkin di sana menjadi habitat Salvator.
(http://gatelitel.blogspot.com/2011/02/varanus-salvator-biawak-air-tawar.html)

Produksi11/12
Iklan

Diterbitkan oleh

Riyan Hidayat

Alumni Fakultas IlmuPengetahuan Budaya Universitas Indonesia | Peminat Kronik dan Peristiwa yang telah Lalu | Belajar Kosa Kata Bahasa Arab lewat "Serinting Bahasa Arab"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s