Kunang-Kunang

Ya, Hanya datang di satu waktu saja. Tak pernah mencapai kata selamanya. Satu musim saja dia memamerkan wajah yang tak bisa dipisahkan dari cahayanya. Tak lebih dari waktu-waktu sendiriku Ketika mataku sedang tak mampu menikmati apa yang ku sebut dengan Lentera Hidup.

Mulailah Ia keluar mengepakkan lenturan sayap-sayapnya dari persembunyiannya yang tak pernah bisa ku jangkau. Pandanganku mulai terperanjat merasakan kenikmatan tentang kilauan cahayanya yang dulu sempat hilang beberapa waktu. Kakiku berhenti tanpa ragu, memperhatikan dan menikmati setiap jengkal gerak-geriknya. Hanya itu yang bisa ku lakukan semenjak kuputuskan diriku untuk tak mau menyentuhnya,  untuk menjaganya agar tetap utuh hingga aku tahu bagaimana cara menyentuhnya.

Seolah ia yang terindah didepan mata ini, tak ada yang lain. Aku tergoda untuk mengatakan padanya,”Kunang-kunangku, sudah lama rindu ini terpasung dalam jeruji yang tak bisa kutembus. Saat ini  kau memang ada disini dihadapan hati yang sedang bergembira karenamu. Tapi esok? Lusa? Bulan Depan? Tahun Depan? apa kau masih disini?” Dalam Hati ku teruskan tanyaku,”Kapan lagi kunang-kunangku? Kalaulah kau pergi, Kapan lagi aku bisa melihatmu? Seperti Hari ini saat aku mengeja puas indahnya dirimu.”

Jakarta, 23/06/2012 pk. 20:34

Iklan

Diterbitkan oleh

Riyan Hidayat

Alumni Fakultas IlmuPengetahuan Budaya Universitas Indonesia | Peminat Kronik dan Peristiwa yang telah Lalu | Belajar Kosa Kata Bahasa Arab lewat "Serinting Bahasa Arab"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s