Malu Sebagai Tuan Rumah

“Lu boleh jadi majikan di negeri lain. Tapi kalo ude di negeri sendiri, bilang Ini rumah gw. Rawat tuh rumah.”

Kata – kata itu yang sangat membuat saya malu dan menyayat hati. Saya memang bukan majikan di negeri orang. Tapi, saya juga bukan tuan rumah yang baik. Dulu saya hanya acuh pada keadaan yang lambat laun berubah menuju ke arah kebobrokan atau malah sudah mulai bobrok. Acuh pada kerinduan orang – orang akan sesuatu yang konstruktif untuk “rumah” saya.

Rumah saya, DKI Jakarta kini sudah tua renta. Berbagai perawatan, modifikasi, accessories, perbaikan atau istilah apapun yang melekat selama kota yang mencoba “indah” ini berdiri. Berbagai penghuni ada didalamnya. Tapi, kebanyakan tidak memperdulikan saluran ereksi mereka. Banyak penghuinya, tapi apakah ketua dari penghuninya memikirkan itu semua?.

Masalah Lingkungan

Agaknya banjir menjadi “Soulmate” yang sangat setia bagi hiruk – pikuk kota Jakarta yang selalu ramai dengan orang berdasi, biasa saja hingga yang meminta di jalan raya. Memang dahulu J.P.Coen sudah menduga akan potensi banjir di Jakarta,  hingga ia mengusulkan Jakarta menjadi water front city (kota air) layaknya Amsterdam di Belanda. Jadi secara historis, Jakarta memang sudah diprediksi potensi banjir yang juga dikuatkan dengan penambahan volume debit air yang dihasilkan ciliwung, Cisadane dan angke atau sungai lain ke Teluk Jakarta.

Kalau dilihat dari sisi sejarah memang seperti itu, faktor alam itu pasti tapi faktor akibat dari manusia sungguh elastis, bisa berakibat baik atau buruk. Dalam hal ini, dikatakan bahwa faktor manusia lebih ampuh untuk mempengaruhi jakarta dengan baik atau tidak. Lalu, dalam hal banjir faktor manusia ini menjadi penyumbang presentase terbesar dari kejadian banjir yang ada di Jakarta.

Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi hobi sehari – hari  adalah salah satunya. Menurut BMG secara tidak langsung ini mempengaruhi perubahan karakteristik tanah yang menjadi peresap air. Tanah Jakarta yang secara historis adalah rawa menjadi labil dan rawan amblas. Dalam hal udara, gedung-gedung tinggi ini membuat sirkulasi udara tidak berjalan sungguh buruk, apalagi ditambah dengan gedung tinggi yang menggunakan kaca yang berpotensi memancarkan radiasi matahari yang membuat sekeliling gedung tersebuut menjadi panas. Dalam 25 tahun terakhir ada beberapa unsur mengalami perubahan diantaranay suhu udara di wilayah DKI Jakarta mengalami kenaikan rata-rata 0.17oC, suhu di daerah Jakarta cenderung lebih tinggi 0,7 oC – 0,9 oC di bandingkan dengan daerah pinggiran (Halim dan Cengkareng). Bukan hanya itu, drainase yang tidak optimal atau bisa dikatakan bobrok menyebabkan banjir. Misalnya, dahulu di jalan M.H. Thamrin tidak pernah banjir sekarang ikut banjir.

To Be Continued


Iklan

Diterbitkan oleh

Riyan Hidayat

Alumni Fakultas IlmuPengetahuan Budaya Universitas Indonesia | Peminat Kronik dan Peristiwa yang telah Lalu | Belajar Kosa Kata Bahasa Arab lewat "Serinting Bahasa Arab"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s